"Masyarakat kota-kota besar tak mengenal tetangga satu dan lain, profesi berbeda. Zonanya beda-beda tak seperti di desa sama-sama petani, ketika ada masalah mohon bantuan kerabat dekat sehingga terbangunnya komunikasi sosial. Di kota belum lagi persoalan psikologis, bercerai, dan lainnya," papar Devie.
Menurutnya, negara sudah menciptakan sistem mematikan kearifan lokal dimana sistem pasar kita berubah menjadi sistem pasar modern berbasis teknologi. Devie menyebut masyarakat Indonesia semakin terhimpit.
"Mereka terjebak, terhimpit, menjadi 'Masyarakat Burger', sistem tak adil membuat mereka peroleh tuntutan cari kehidupan tak ekonomis. Hal ini banyak menimbulkan depresi berkaca pada kasus Cibubur Bekasi. Orangtua sudah stres, akhirnya melakukan kekerasan menyakiti anaknya sebagai saluran stres," jelasnya.
Devie menambahkan, belum lagi masalah kesibukan orangtua, paradoks internet dan jarak yang semakin membuat anak sulit bertemu dengan orangtuanya.
"Dalam kasus ini, narkoba pangkalnya. Harapannya hukum jangan jauhkan orang tua dari anaknya. Rehabilitasi dibedah masalahnya. Orangtua harus berhenti narkobanya, terapi jiwanya, rehabilitasi dan anak dipertemukan," tegasnya.
(Misbahol Munir)