Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Lokasi Penemuan Batu Kristal Lavender Dikenal Angker

Prabowo , Jurnalis-Kamis, 04 Juni 2015 |17:56 WIB
  Lokasi Penemuan Batu Kristal Lavender Dikenal Angker
Lokasi penemuan batu di Gambirsari (Foto: Prabowo/Okezone)
A
A
A

SLEMAN - Lokasi penemuan batu kristal di Gambirsari, Pedukuhan Lemah Abang, Kelurahan Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, dikenal angker. Masyarakat sekitar jarang menyusuri kawasan bukit batu kapur itu karena takut tertimpa sesuatu.

"Lokasinya itu wingit (ada penghuni makhluk halus) kalau orang Jawa bilang. Saya berharap tidak ada sesuatu kepada anak saya," kata Bardi (58), ayah Juwanto, penemu batu itu, Kamis (4/6/2015).

Batu tersebut kini berada di rumah Sayono (38), kakak Juwanto, yang berada di Jatisari, Gayamharjo, Prambanan. Sementara rumah Juwanto sendiri berada di Gambirsari, satu pedukuhan dengan lokasi penemuan batu.

Batu tersebut ditemukan di pingir saluran air perbukitan yang cukup jauh dari tempat tinggal penduduk setempat. Lokasi tanah ditemukan batu merupakan milik "orang pintar" atau semacam dukun. Namun, orang pintar tersebut sudah lama meninggal sekira enam tahun silam.

"Tanah pekarangan miliknya almarhum Mbah Mento dikenal sakti saat masih hidup. Saat mengambil batu tidak ada kerusakan, karena berada di pinggir saluran air bawah pohon sonokeling," ucap Bardi.

Selama ini, kata dia, lokasi tersebut masih dikenal menyeramkan. Masyarakat sekitar tidak mau mengambil sesuatu di tempat itu tanpa mengucap salam atau meminta izin meski tidak ada orang.

"Misal mau cari rumput, biasanya minta izin dalam hati karena dulunya sekitar tanah Mbah Mento dirajah, dipagari dengan doa-doa," jelas bapak dua anak ini.

Berembus kabar bisa mendapat sesuatu yang buruk jika mengambil barang apa pun di sekitar tanah perbukitan milik almarhum Mbah Mento. Hal itu karena semasa hidup, Mbah Mento dikenal sakti dengan memiliki ilmu kanuragan.

"Kalau ada yang ambil kayu saja untuk memasak, kadang perasaannya enggak enak dan disuruh mengembalikan. Tapi kalau sudah nembong (minta izin), biasanya tidak terjadi apa-apa," jelasnya.

Senada diakui Juwanto, putra kedua Bardi, yang menemukan batu dan membawa pulang ke rumah kakaknya. Anto -sapaan akrab Juwanto- menyebut ditemui beberapa ular besar di siang bolong saat hendak membawa pulang batu.

"Saat mau bawa pulang itu banyak rintangan. Ada dua ular sebesar lengan orang dewasa berhenti melintas di depan saya. Saya diam sejenak, dan bilang 'kalau ini rezeki saya, biar saya bawa pulang', tak lama kemudian ularnya jalan menuju semak-semak," cerita Anto.

Jalan dari area perbukitan lokasi penemuan batu menuju jalan kampung yang biasa digunakan melintas cukup jauh, lebih dari 500 meter. Mereka harus menyusuri jalan setapak bebatuan hingga jalan perkampungan.

"Lokasinya itu 'adem' di bawah pohon sonokeling. Akarnya menempel pada batu, saat hendak diambil dengan linggis, batunya terbelah menjadi dua, saat itu saya merinding melihatnya," jelas dia.

(Carolina Christina)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement