Share

Batu Akik yang Kini Tak Lagi Asyik

Tri Purna Jaya, Okezone · Selasa 20 September 2016 09:51 WIB
https: img.okezone.com content 2016 09 20 340 1493595 batu-akik-yang-kini-tak-lagi-asyik-hiMHCij4RF.jpg Batu akik yang bisnisnya kini makin tercekik (Foto: Tri Purna Jaya/Okezone)

BANDAR LAMPUNG - Tren batu akik yang meredup membuat sejumlah pedagang di Pasar Tengah, Bandar Lampung, menggaruk kepala. Jika biasanya dalam sehari bisa mendapat Rp500 ribu, sekarang paling banyak hanya Rp100 ribu.

Haji Uun duduk bersandar di sebelah lapaknya di Jalan Bengkulu, Pasar Tengah. Diisapnya dalam-dalam rokok kretek bergagang gading. Sambil mengusap jenggot lebatnya, ia merapikan batu-batu akik dan emban (ring) yang ter-display.

"Orang-orang sih banyak yang lewat. Tapi yang mampir (beli) sudah jarang. Kalau dulu sehari bisa pulang bawa Rp500 ribu Rp1 juta, sekarang dapat Rp100 ribu saja sudah alhamdulillah. Kemarin malah cuma dapat uang Rp15 ribu," katanya, Sabtu (17/9/2016).

Ia mengakui, bisnis akik sedang mengalami penurunan yang sangat drastis. Omzet yang didapat per bulan menurun sekira 50 sampai 80 persen dibanding saat bisnis ini naik daun.

Kondisi tersebut tak hanya dirasakan oleh Haji Uun, seluruh pedagang di jalan yang terkenal sebagai sentra batu akik pun mengalami hal yang sama.

Lapak-lapak pedagang dan pengasah batu akik yang dahulu dijejali penggemar akik pun kini mulai sepi. Hanya ada satu atau dua orang saja di lapak-lapak tersebut. Bebunyian gerinda dan alat pengasah batu pun makin jarang terdengar.

"Dulu saya jual Kecubung Ulung ini seharga Rp3 juta. Sekarang yang mau bayar Rp 300 ribu saja saya kasih," kata Haji Uun sambil memperlihatkan akik berwarna hitam berukuran agak besar.

Haji Uun mengatakan, yang paling jatuh omzet penjualan adalah batu-batu lokal seperti Anggur Api, Biru Langit Baturaja, serta Solar. Bahkan, Bungur Tanjungbintang yang menjadi primadona pun ikut mengalami kelesuan penjualan.

"Yang bagus-bagus sudah dimiliki kolektor. Yang tersisa yang biasa-biasa saja. Makanya, orang sekarang jarang beli, karena batu-batu yang ada tinggal yang seperti itu," katanya.

Pedagang batu akik lain di jalan yang sama, Jaya, mengatakan pembeli memang sudah sangat sepi tetapi tetap ada yang membeli. Biasanya, kata dia, pembeli itu adalah penggemar juga.

"Kalau yang kemarin-kemarin kan itu semua orang beli batu, jadi ramai. Sehari bisa bawa pulang lebih dari Rp1 juta. Sekarang ini sih memang sepi, tapi tetap ada yang beli," katanya.

Tak hanya penjualan batu akik yang menurun, tutur Jaya, penjualan emban (ring) juga terjun bebas. Ia memiliki satu kodi emban yang dahulu dibelinya seharga Rp1 juta.

"Sekarang satu kodi emban ini hanya Rp200-300 ribu. Rugi banyak kalau dihitung-hitung sekarang," katanya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini