BLITAR – Telaga Rambut Monte di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tak hanya menyimpan keindahan nan asri dan alami. Obyek wisata yang juga cagar alam itu juga menjadi habitat fauna air atau ikan-ikan yang spesiesnya tergolong purba.
Jumlahnya ada lebih dari 100 ekor. Yang paling besar memiliki panjang sekitar 30 centimeter. Warnanya kelabu kecoklatan, bersisik tegas. Kepalanya lebih besar dari badannya dengan di sekitar mulut berhias sulur.
Fisiologinya perpaduan antara lele dan hiu. Warga desa menyebutnya ikan sengkaring. Ada juga yang menamakan ikan dewa. Dulunya ikan langka itu hanya hidup di satu titik mata air yang berupa pemandian kecil.
Sumber air itu masih mengumpul, tidak seluas seperti sekarang. Tangan dan keringat warga desa yang mengubah segalanya. Atas inisiatif almarhum Kepala Desa Suratmin, warga bergotong-royong membersihkan lokasi mata air.
Tanaman liar, potongan ranting dan sampah dedaunan yang bikin kotor disiangi dan dibuang. Mata air diperluas dan secara bertahap menjadi sebuah telaga.
“Peristiwa itu berlangsung sekitar tahun 1942 saat penjajahan Jepang. Tujuan awalnya hanya ‘nguri-uri’, pelestarian alam. Namun Pak Kades pertama itu (Suratmin) sepertinya memiliki intuisi kalau di kemudian hari, lokasi ini bakal menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi orang, “terang Kusno, juru kunci Telaga Rambut Monte.
Sayang, tidak banyak warga desa yang menikmati hasil jerih payahnya. Sebagian besar warga diangkut Jepang untuk dijadikan romusha (pekerja paksa). Mereka dipaksa membangun waduk raksasa di kawasan pantai selatan Kabupaten Tulungagung.
Beberapa warga kembali pulang. Namun tidak sedikit yang tidak diketahui kabar rimbanya. “Sebagian besar warga yang menjadi romusha meninggal dunia, “terang Kusno yang mengaku mendapat cerita secara turun-temurun.
Ada kisah mitos bahwa kawanan ikan sengkaring yang hidup di Telaga Rambut Monte itu bersifat metafisika atau gaib. Satwa air yang diyakini berusia ratusan tahun itu dianggap beberapa orang merupakan penjelmaan balatentara Majapahit.
Karenanya, tidak ada satu pun warga yang berani menangkap, apalagi menyantapnya. Suyono (67), warga setempat, bercerita bahwa pernah ada warga yang mencoba menangkap dan mencoba memasakna. Konon, daging ikan berubah menjadi minyak. Dan yang menyengat adalah adanya aroma amis darah.
“Oleh sebagian warga cerita itu diyakini kebenaranya. Karenanya tidak ada yang berani menangkap ikan di telaga,” timpal Suyono.
Namun Suyono masih ingat pada tahun 80an, banyak ikan sengkaring yang mati. Totalnya ada 27 ekor. Kematian ikan akibat terkontaminasi kotoran sapi milik warga.
Ada sejumlah warga yang memandikan ternak sapi di sungai yang aliran limbahnya masuk ke dalam telaga. “Sejak peristiwa itu, ada larangan memandikan sapi di sungai yang aliran airnya masuk ke telaga,“ pungkasnya.
Dewangga Anoraga (25), salah seorang wisatawan Telaga Rambut Monte berpendapat, mitos yang dibangun merupakan bentuk strategi kebudayaan. Adanya cerita kejadian aneh pada ikan, pohon besar di sekitar telaga dan semacamnya, merupakan cara nenek moyang menyelamatkan alam dari kerusakan, khususnya tangan manusia.
“Mitos atau cerita legenda yang dibangun merupakan bentuk strategi kebudayaan untuk menyelamatkan alam, “ tutur Dewangga.
Lulusan sebuah kampus pariwisata di Yogyakarta yang bekerja sebagai asisten chef di sebuah kapal pesiar perusahaan Amerika Serikat itu menilai, tidak sulit untuk mematahkan persoalan daging ikan yang berubah minyak dan aroma amis darah.
Secara pengetahuan kuliner, memang ada jenis ikan yang dagingnya mudah menjadi minyak dan amis. Dan itu bisa disiasati dengan mencampurkan tepung dan kucuran asam jeruk saat proses pemasakan.
Namun konteks permasalahanya, kata Dewangga bukan pada memasak ikan. Sebab, ia bisa membayangkan betapa tidak menariknya Telaga Rambut Monte, bila ikan jenis langka itu menjadi hidangan manusia.
“Dan betapa rusaknya alam ketika pohon pohon besar di sekelilingnya dibalak hanya untuk pemenuhan pasar furniture. Sebab, cagar budaya ini harus tetap dilestarikan. Salah satunya dengan cara mempertahankan mitos dan legenda lokal yang ada” sambungnya.
Ia juga menambahkan bahwa akses jalan menuju obyek wisata Telaga Rambut Monte belum representatif. Jalan sempit dengan kondisi yang buruk, seringkali menjadi alasan para wisatawan membatalkan agenda kunjungannya.
“Dan sepengetahuan saya tidak hanya di Rambut Monte. Tapi sebagian besar akses jalan wisata di Kabupaten Blitar masih relatif kurang memadai,” tandas Dewangga.
(Randy Wirayudha)