"Sumbernya adalah sistem politik yang dibangun di era Reformasi. Di mana Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, sudah tidak lagi digunakan. Yang terjadi, kini semua menjadi pribadi-pribadi transaksional dan melahirkan pemimpin yang mikir ongkos politik,” ucapnya.
Masyarakat jadi terkotak-kotak dan mudah dijadikan alat kepentingan. Pribadi yang telah berubah ini, kata Gus Nuril, mudah dibentur-benturkandengan Pemerintah dan aparat negara. Fakta yang terjadi, sering dijumpai rakyat berani melawan aparat negara.
Di Jakarta, aparat mendapat perlawanan masyarakat pada aksi penggusuran rumah tak berijin. Sementara di Kebumen belum lama ini masyarakat nekat menghentikan pembangunan pagar pembatas di areal latihan militer TNI AD yang berbuntut bentrokan.
"Ini sangat disesalkan dan saya yakin ini ada yang menggosok-gosok hingga mereka berani melawan aparat negara. Tentunya ini ada kepentingan di balik itu. Oleh karenanya, aparat juga harus peka mewaspadai gerakan ini. Jangan lalu terpancing dan dihantam dengan isu HAM", tutur Gus Nuril.
Gus Nuril mengajak semua komponen bangsa, terutama para alim ulama, termasuk tokoh lintas agama harus turun tangan membentengi rakyat dari pengaruh hasutan kelompok-kelompok kepentingan. "Saya yakin para tokoh agama, baik para Kyai, Pastur, Pendeta, Bhiksu dan lainnya masih didengar umatnya. Gunakanlah pendekatan agama untuk mengingatkan kepada umat agar bersatu dan jangan mau dipecah belah", tandasnya.
(Abu Sahma Pane)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.