SATU dari sembilan jenderal dan satu personel polisi yang jadi korban Gerakan 30 September (G30S) 1965 adalah Mayjen Siswondo Parman. Asisten I Menpangad bidang Intelijen itu satu dari beberapa jenderal yang masih hidup ketika diculik dan dihabisi di Lubang Buaya.
5 Oktober 1965, jenderal baru menikah 14 tahun bersama Sumirahayu dan tanpa dikaruniai keturunan itu, ikut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, bersama kolega dan atasannya, Menpangad Jenderal (Anm) Ahmad Yani – sebagaimana keinginannya beberapa waktu sebelum kejadian.
Ya, seperti dikutip dari buku ‘Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965’. Jenderal Parman pada suatu ketika, sudah berpesan pada sang istri, Sumirahayu, jika nanti dirinya gugur, jenderal kelahiran Wonosobo, 4 Agustus 1918 itu ingin dikebumikan di TMP Kalibata.
“Wah, Ini Taman Makam Pahlawan! Tempat bahagia bagiku, jeng. Jangan lupa ya, kalau aku gugur supaya bisa dimakamkan di sini. Jangan lupa pula supaya pada kijingku (batu nisan), nanti ditulis ‘Pejuang Sejati’,” ucap Jenderal Parman kepada istri ketika berada di depan TMP Kalibata.
Isyarat aneh lain yang dirasakan istri Jenderal Parman adalah ketika suaminya tiba-tiba menyuruh Sumirahayu untuk jalan-jalan ke luar kota, seperti ke Cibubur atau ke Cisalak.
Begitu juga ketika Jenderal Parman sempat mengajak istrinya pelesiran ke Bogor. Suatu perilaku ganjil lantaran selama ini Jenderal Parman bukan sosok yang gemar tamasya.
Hal lain yang tak kalah aneh adalah ketika pada 30 September 1965, tepat jam 12 malam, Jenderal Parman dan istri keheranan dengan kedatangan kawanan Burung Gereja dan Burung Sriti di kamar tamu rumah mereka, Jalan Serang Nomor 32, Menteng, Jakarta Pusat.
“Lho kok banyak sekali burung gereja di kamar tamu itu?” tanya Jenderal Parman yang segera dijawab singkat istri, “Ah, sudahlah. Tidur saja”.
“Lho, sekarang banyak Burung Sriti?,” tanya Jenderal Parman lagi keheranan. Keganjilan itu seolah jadi pertanda. 1 Oktober 1965 subuh sekira pukul 04.00, pasutri yang kala itu sudah terbangun dari tidurnya dikagetkan dengan kedatangan 20 personel Tjakrabirawa.
Jenderal Parman diminta menghadap Panglima Tertinggi dan ketika berganti pakaian di kamar, gerombolan Tjakra itu mengikuti ke dalam kamar. Pesawat telefon di rumahnya pun turut diambil dan seketika itu juga, Jenderal Parman mulai sadar bahwa nyawanya terancam.
“Lho kok telefon saya diambil? Lho, saya ini difitnah?” cetus Jenderal Parman. “Oh, tidak Pak,” jawab seorang dari mereka.
Jenderal Parman pun dibawa dan sang istri sama sekali tak tahu ke mana suaminya dibawa pergi. Tak lama kemudian, istri Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono datang dengan menangis sembari bertanya tentang keberadaan Jenderal Parman.
Istri Jenderal Parman pun menjelaskan bahwa suaminya telah dibawa gerombolan Tjakra yang ternyata, kejadiannya sama dengan yang dialami keluarga MT Harjono.
“Jeng, jangan menangis. Kuatkan imanmu. Sebagai istri perwira, kita harus tabah dan kuat,” tuturnya kepada istri MT Harjono.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.