JAKARTA – Salah satu putra terbaik bangsa, Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani mesti meregang nyawa dan tutup usia dengan sia-sia. Gerombolan Tjakrabirawa yang sudah terkena virus komunis dan pemuda rakyat nan terkutuk, membinasakannya di rumahnya sendiri, Jalan Lembang D58, Jakarta Pusat, di suatu subuh, 1 Oktober 50 tahun lampau.
Pada suatu kesempatan, penulis merasa beruntung bisa mendapatkan berbagai segi kisah tentang sosok Menteri/Panglima Angkatan Darat pada saat itu, dari penuturan salah putrinya, Amelia A. Yani, di rumah sang jenderal yang kini dijadikan Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani.
Dalam kesempatan itu, Amelia bahkan turut membacakan satu-satunya elegi atau sajak tentang ratapan, yang diakuinya seolah berasal dari bisikan sang Ayah.
Amelia menuliskannya di tengah keramaian, ketika berada pada suatu acara di Langkat, Sumatera Utara, 2009 silam. Sajak atau puisi itu disandangkan dengan judul “Suara dari Keabadian”:
Tujuh peluru menembus dadaku. Merobek-robek jantungku. Sekujur tubuhku nyeri dan panas. Kudengar tangismu. Kudengar jeritanmu, anakku. ‘Bapak-bapak’. Tapi ku tak berdaya di tangan mereka. Mereka melempar dan menginjak-injak tubuhku yang terluka parah. Ku dengar mesin menderu-deru membawaku jauh. Aku ingin duduk, aku ingin berdiri, tapi tubuhku ditindih oleh kaki-kaki bersepatu lars.
Darahku terus mengalir deras. Aku tak mampu, kekuatanku sirna, tubuhku lunglai. Tiba di sebuah tempat, kudengar suara pikuk. ‘Yani wes dipateni, Yani wes dipateni (Yani sudah dibunuh, Yani sudah dibunuh)’. Dan sayup-sayup kudengar, ‘sukses-sukses’. Kemudian aku dibenamkan dalam kegelapan lorong gelap sempit. Sunyi senyap, gelap. Di mana istriku, di mana anak-anakku, di mana ayahku, di mana bundaku?