SOLO - Kirab perayaan pergantian tahun baru Islam atau biasa dikenal masyarakat Jawa 1 Suro telah dilakukan Pura Mangkunegaran. Pada tahun ini, kirab 1 Suro antara Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran mengalami perbedaan.
Kirab 1 Suro, Kraton Kasunanan sendiri baru digelar malam nanti. Seperti tradisi yang biasa dilakukan, Kraton Kasunanan Surakartapun akan mengkirab kerbau pusaka miliknya berserta benda-benda pusaka koleksi yang dimiliki trah Mataram ini.
Lantas apa yang menyebabkan perayaan pergantian tahun ini antara Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran mengalami perbedaan?
Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) KP Edi Wirabumi menjelaskan, Kraton Kasunanan Surakarta menetapkan 1 Suro atau tahun baru dalam kalender Jawa atau tahun Jimawal 1949 jatuh pada Kamis (15/10/2015).
Penetapan itu di dasarkan atas penanggalan Jawa yang dibuat Sultan Agung sejak jaman Mataram. Tahun baru Jawa diciptakan oleh Raja Mataram, Sultan Agung sekitar abad 16 M. Sistem penanggalan Jawa merupakan penggabungan antara sistem penanggalan Islam dan penanggalan Saka (Hindu). Perhitungan kalender Jawa dimulai pada tahun 1555 Suro Alip oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo.
"Kraton punya penanggalan tersendiri dan telah berjalan ratusan tahun lalu. Dan dasar itulah yang kami gunakan hingga saat ini. Apa yang kami lakukan, juga ditiru oleh Kraton Ngayojokarto. Di mana Kraton Ngayojokarto pun mengikuti apa yang di pakai saudara tertuannya. Dalam hal ini Kraton Kasunanan," ujar Edi saat berbincang dengan Okezone di Solo, Jawa Tengah.
Kanjeng Pangeran (KP) Edi Wirabumi menambahkan, tahun Hijriah dan tahun Jawa berpatokan pada perhitungan bulan, namun metode penghitungannya yang berbeda. Perbedaan tersebut terletak pada letak tahun kabisat.
"Kirab 1 Suro biasa dilaksanakan pada malam tahun baru Hijriah, juga untuk memperingati tahun baru Jawa. Kebetulan di tahun ini, letak kabisat berbeda dan berselisih satu hari," terangnya.
Meski kirab mundur, sambung KP Edi Wirabumi, sebagai salah satu kerajaan Islam, maka pada tahun baru Hijriah, Keraton Surakarta juga memperingatinya dengan doa dan wilujengan.
Sebelum kirab pusaka dilakukan, akan diawali dengan khol (peringatan hari wafat) Paku Buwono (PB) X, lalu dilanjutkan persiapan kirab. Mulai dari menyiapkan petugas pembawa pusaka dan kerbau Kiai Slamet. Kemudian pukul 23.30 WIB pusaka yang terdiri dari tombak dikeluarkan dari keraton untuk dikirab.
Edi Wirabumi mengatakan, kirab pusaka ini mengambil rute dari depan Kori Kamandungan keraton, Alun-alun Utara, Gladag, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi dan kembali ke keraton.
Pusaka keraton menjadi bagian utama pada barisan terdepan. Kemudian diikuti para pembesar keraton, kerabat dan jajaran keraton lengkap dengan pakaian adat Jawa atau Jawi jangkep.
"Seluruh kerabat keraton akan mendoakan agar di tahun baru Jawa ini bangsa Indonesia dikaruniai kenikmatan dan kebahagiaan," ujarnya.
Untuk tahun ini, jumlah kerbau pusaka yang akan dikirab berjumlah sembilan kerbau. Begitu pula dengan pusaka yang akan dikirab juga berjumlah sembilan buah benda-benda pusaka.
Sementara itu, adanya perbedaan waktu pelaksanaan kirab 1 Suro, banyak tak diketahui oleh warga masyarakat Solo dan sekitarnya. Terbukti, tadi malam, meski kirab Kraton Kasunanan baru akan dilaksanakan nanti malam, ribuan warga telah memadati ruas jalan yang biasa dilalui rombongan kirab. Kendati demikian, keamanan tetap terjaga.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.