Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Syarifah Melawan Terjangan Tsunami saat Berbadan Dua

Salman Mardira , Jurnalis-Minggu, 27 Desember 2015 |05:53 WIB
Cerita Syarifah Melawan Terjangan Tsunami saat Berbadan Dua
A
A
A

Setelah air surut, dia baru sadar bahwa rumahnya sudah lenyap disapu gelombang bersama seisi kampung. Yang tersisa hanya dapur tempat ia terjebak. Keadaan sekelilingnyat tak ubah seperti korban pembantaian. Mayat bergelimpangan di mana-mana, di antara tumpukan sampah-sampah tsunami.

Hanya dalam hitungan detik, tsunami telah menghancurkan 800 kilometer pesisir Aceh atau setara panjangnya Jakarta hingga Surabaya, menelan beberapa pemukiman. Bukan hanya Aceh, pesisir 14 negera sekitar Samudera Hindia juga terkena dampak. Lebih 200 ribu nyawa melayang.

Sisa Kedahsyatan Tsunami

Syarifah ikut kehilangan tiga dari empat anggota keluarga yang tinggal di rumahnya. Kakak dan dua keponakannya jadi korban. Suami, anak, serta ibunya selamat. Ia sendiri sempat tidak percaya masih bisa hidup. “Allah masih memberi kesempatan kepada saya,” katanya.

Tiga hari usai tsunami ia diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat Hercules TNI. Keluarganya di kampung mengira Syarifah, suami dan anaknya telah tiada. Mereka sempat menggelar keduri dan samadiah, ritual adat di Aceh untuk mengenang arwah.

Dinas Pendidikan, tempat instansi Syarifah bekerja juga sudah memasukkan namanya dalam daftar pegawai-pegawai yang meninggal dalam tsunami.

Tiga pekan di Jakarta, Syarifah melahirkan anak keduanya. Empat bulan kemudian dia kembali ke Aceh dengan pikiran yang masih trauma. “Kalau ke Banda Aceh rasanya airnya naik lagi gitu,” tuturnya.

Dia lalu memilih tinggal sementara di Montasik, Aceh Besar, sekira 19 kilometer dari Banda Aceh, sambil melatih pemulihan psikologis. “Trauma tidak bisa dihilangkan secara begitu saja,” ungkapnya.

Selain lewat sentuhan keagamaan, Syarifah juga banyak melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan pelatihan kebencanaan untuk pemulihan. Baginya, terlibat dalam latihan simulasi mitigasi bencana adalah cara ampuh untuk menghilangkan trauma.

Awalnya, kata dia, ada beberapa guru yang menangis bahkan pingsan ketika mengikuti latihan. Namun lama kelamaan rasa trauma guru-guru yang pernah jadi korban tsunami itu bisa terkendali.

Bahkan dalam simulasi terakhir 17 Desember lalu, tak ada lagi guru yang menangis. Mereka leluasa mengarahkan siswa-siswa bagaimana cara menyelamatkan diri setelah gempa besar disusul tsunami, dengan berlari ke daerah yang lebih tinggi.

Syarifah mengatakan, penting bagi masyarakat untuk belajar tentang bencana dan cara menghindarinya. Tsunami 11 tahun lalu, kata dia, banyak menelan korban karena minimnya pemahaman masyarakat tentang tsunami. (day)

(Susi Fatimah)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement