RAMADI – Sebagai hukuman atas kekalahan mereka di Ramadi oleh pasukan Irak, Kelompok teroris ISIS tega membakar hidup-hidup pasukannya.
Disitat dari Mirror, Sabtu (16/1/2016), eksekusi brutal itu dipublikasikan sebagai peringatan bagi anggota ISIS lainnya di Suriah dan Irak, terutama mereka yang tengah berjaga di Mosul.
Menurut petinggi kelompok ekstremis itu, lebih baik para pasukannya mati sebagai martir dalam pertempuran itu daripada kembali hidup-hidup dan membawa kekalahan.
Seperti diketahui, setelah daerah kekuasaan mereka direbut Irak awal tahun 2016, pasukan ISIS dipukul mundur ke Mosul, Provinsi Anbar.
Kejadian ini dianggap kemenangan besar bagi Irak yang tergabung dalam pasukan koalisi anti teror pimpinan Amerika Serikat. Setelah berhasil mengambil kembali Ramadi, rencananya Irak akan segera melancarkan aksi serupa ke Mosul.
Hukuman yang tak berprikemanusiaan dari ISIS, sekali lagi menunjukkan bahwa teroris hanya membawa kesengsaraan bagi pihak yang diteror maupun mereka yang memilih bergabung di dalamnya.
Anak-anak, perempuan, lansia maupun laki-laki dewasa, semuanya hanya akan jadi tumbal untuk kepentingan segelintir orang di atasnya.
“Mereka senang menyiksa dan membunuh untuk mengintimidasi orang. ISIS itu rapuh, keropos di dalamnya dan penuh paranoid antar sesama mereka sendiri,” tukas Michael Pregent, pakar terorisme sekaligus mantan penasihat intelijen Jenderal Irak David Petraeus.
Pregent menambahkan, eksekusi mati terhadap anak-anak dan perempuan dimanfaatkan ISIS hanya sekadar untuk mengintimidasi. Logika mereka, semakin keras hukumannya, semakin bagus. Padahal, semakin keras sanksinya, akan semakin payah (desperate) kepemimpinannya.
(Silviana Dharma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.