“Zaman awal perang kemerdekaan, kan ada desersi 500-600 pasukan sekutu asal Pakistan. Membalas jasa mereka, pada 90an mereka diberikan medali gerilya oleh pemerintah Indonesia,” ungkap penggiat sejarah, Wahyu Bowo Laksono kepada Okezone.
Salah dari tentara sekutu asal Pakistan yang sempat menolak bertempur itu adalah Presiden keenam Pakistan, Muhammad Zia-ul-Haq. Dia pernah bertugas di Surabaya pada akhir 1945.
Ketika menjadi presiden dan berkunjung ke Indonesia, Zia-ul-Haq pernah mengajukan permintaan pada Presiden RI kedua, Soeharto, untuk memperpanjang masa lawatan demi menyambangi Kota Surabaya untuk “bernostalgia”.
Selain India, Pakistan juga paling gencar menyokong dan melantangkan pengakuan terhadap kemerdekaan RI. Salah satu bentuknya adalah ketika Gubernur Jenderal Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, memboikot pesawat-pesawat Belanda yang hendak traksit di Pakistan.