“Tahun 1947, Ali Jinnah melarang terbang atau mendaratnya pesawat Belanda, maupun armadanya di Pakistan, ketika sedang menghimpun kekuatan untuk persiapan agresi militer (Clash I – Operatie Product, 27 Juli 1947) di Indonesia,” lanjutnya.
Pasca-perang, Presiden Soekarno pun melakukan “safari” perdananya ke sejumlah negara sahabat, negara-negara pertama yang mengakui kedaulatan RI, seperti India, Myanmar dan termasuk Pakistan pada medio Januari 1950.
Kedatangan Soekarno disambut langsung dengan hangat oleh Presiden Pakistan pertama, Iskandar Ali Mirza. Dalam kunjungannya, Soekarno juga menyempatkan diri mendatangi dan salat di tempat sembahyang bersejarah – Masjid Badshahi di Lahore.
Indonesia atas perintah Soekarno, juga memainkan peranan penting dengan mengirim kapal-kapal perang ke perairan Kepulauan Andaman dan Nikobar, ketika pecah Perang India-Pakistan yang kedua pada Agustus 1965.
Kala itu, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Pakistan, Marsekal Asghar Khan setelah “bersafari” pula ke Turki, Iran dan China, turut mendatangi Presiden Soekarno dan Menteri Panglima Angkatan Laut (Menpangal) RI, Laksamana Raden Eddy Martadinata untuk membicarakan situasi konflik.
“Indonesia membantu mengirim beberapa KRI TNI AL untuk turut mengamankan perairan di sana. Berperan sebagai pasukan penyangga yang statusnya netral,” sambung Wahyu.
“Tentunya (pengiriman KRI) itu sebagai pemantau untuk percepatan gencatan senjata senjata. Indonesia dipandang sebagai negara yang punya hubungan baik dengan kedua negara (Pakistan-India),” tandasnya.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.