Tak dipungkiri jika bangsa Amerika yang kini menjelma menjadi negara adidaya masyarakatnya adalah pendatang. Bahkan sejarah mencatat bahwa awal kedatangan mereka telah melakukan banyak perlakuan keji kepada bangsa asli setempat yaitu Suku Indian.
Kedatangan imigran tersebut tentu bertujuan menguasai Amerikaseutuhnya, padahal mereka sama sekali tidak punya hak mengingat statusnya sebagai pendatang. Alhasil, konfrontasi antara Suku Indian dan bangsa Amerika pendatang itu tak dapat dihindari.
Perlu diketahui pula selama masa konfrontasi itu, terdapat para pejuang Suku Indian yang sepak terjangnya terbilang luar biasa sehingga jadi momok menakutkan bagi para pendatang. Berikut ulasannya seperti dilansir dari laman boombastis.com.
Cochise
Cochise sebenarnya berteman cukup baik dengan para pendatang Amerika. Kebenciannya terhadap para pendatang bule itu berawal saat dirinya menjadi korban salah tangkap. Parahnyaa, teman-teman Cochise menjadi korban pembantaian saat itu. Dari sitlah pejuang Apache ini bertekad menghabisi semua Amerika dan sekutunya.
Cochise (foto: wetehrillfamily.com)
Aksi heroik Cochise pun mengundang decak kagum, sehingga ia mendapat gelar Napoleon-nya Apache. Para pendatang kulit putih itupun menawarkan perdamaian yang kemudian diterima oleh Cochise.
Geronimo
Geronimo memutuskan untuk mengadi pejuang Indian saat tahun 1858 silam tentara Meksiko membantai keluarganya, termasuk istri, ibu dan tiga orang anaknya. Saat itu ia marah luar biasa dan bertekad menuntut balas, nyawa dengan nyawa.
Geronimo (foto: biography.com)
Lebih dari 28 tahun Geronimo melakukan rangkaian penyerangan baik itu terhadap Meksiko maupun orang-orang Amerika. Ia dikenal sangat licin dan cerdas. Di mana suatu ketika ia dan bala tentaranya yang berjumlah 38 orang, berhasil lolos dari kejaran sekira delapan ribu tentara gabungan Meksiko dan Amerika.
Opechancanough
Nama Opechancanough sangat terkenal dalam sejarah konfrontasi Amerika dan Suku Indian. Pasalnya, pria ini berhasil membunuh banyak sekali kaum pendatang. Ia paling tidak suka jika eksistensi sukunya diusik oleh kedatangan bangsa asing. Hingga akhirnya ia meluapkan kemarahannya dengan menyerang secara tiba-tiba sebuah kampung kaum pendatang. Sebanyak 350 orang imigran mati dalam tragedi ini.
Opechancanough (foto: huff-family.gandi.ws)
Hampir selama 10 tahun ia terus melakukan misi penyerangan terhadap pendatang orang kulit putih. Bahkan saat memasuki usia senja yakni 90 tahun, Opechancanough masih sanggup membunuh sekitar 500 orang imigran. Opechancanough di akhir hayatnya tewas diterjang peluru oleh seorang tentara.