Dari pantauan di lokasi, tiang listrik itu juga mengeluarkan panas. Bahkan, suhu pada bagian paling bawah yang bersentuhan dengan tanah terasa panas.
Pada tembok pembatas sumur warga membuat tulisan “awas berbahaya”. Meski tidak sedikit yang menyakini air sumur itu bisa menjadi obat. Namun banyak yang mengimbau untuk tidak diminum.
Di lokasi sumur beberapa warga mulai memasang kotak amal dan menjual botol bekas air mineral untuk para pengunjung sumur. Harga setiap botol mineral ukuran satu liter Rp1.000.
Tidak hanya dari Blitar, beberapa pengunjung berasal dari Kabupaten Tulungagung dan Kediri. Warga setempat juga menempatkan air sumur ke dalam kaleng bekas cat ukuran 20 kilogram.
Setiap pengunjung dipersilakan mencoba panasnya air dengan merendam kaki sebelum mengisi botol mineralnya. “Uang yang terkumpul kita berikan kepada pemilik rumah,“ tutur Tholib (55) warga setempat yang juga masih kerabat Jamini.
Pj Sekretaris Desa Dermojayan, Sukarji mengaku sudah melaporkan fenomena itu kepada instansi terkait. Belum lama ini aparat Kepolisian, anggota Koramil, Dinas Kesehatan Pemkab Blitar, perwakilan Bina Marga dan PLN meninjau lokasi sumur. Petugas juga sudah melakukan pengambilan sampel air untuk mengetahui penyebab fenomena.
Sempat muncul dugaan panasnya air berasal dari arus pendek listrik. Sebab saat dilakukan pengurasan sumur, mata air yang berasal dari arah tiang listrik terasa panas. Sedangkan mata air yang berasal dari bawah tetap dingin.
“Ada dua mata air yang mengisi sumur. Dan kita sempat menyedotnya sebanyak dua kali. Namun kalau memang arus pendek tentunya air sumur juga mengalirkan listrik,“ jelas Sukarji.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.