BULELENG - Melancong ke Bali pada saat Nyepi tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Selama 24 jam seluruh aktivitas duniawi akan dilumpuhkan total kecuali ada kebutuhan mendadak seperti sakit atau meninggal dunia.
Meski tidak boleh keluar rumah atau bahkan menyalakan penerangan di dalam rumah pada saat Nyepi, umat Hindu dibuat bahagia dengan merayakan malam pengerupukan berupa pawai ogoh-ogoh dengan rasa suka cita.
Namun, ada yang menyedihkan pada malam pengerupukan itu. Sepanjang jalan mata kita akan disuguhkan hamparan sampah dan juga kemacetan hingga pawai selesai.
Salah satu warga Singaraja yang peduli terhadap sampah, rela memunguti sampah-sampah plastik peninggalan penonton pawai ogoh-ogoh. Dia sengaja membawa kantong plastik dari rumahnya karena tahu akan banyak sampah selama malam pengerupukan.
"Saya memang bawa plastik sampah dari rumah, karena enggak suka lihat sampah di Jalan," papar Ngurah ketika berbincang kepada Okezone, Rabu (08/03/2016).
Ngurah dibantu tiga sahabatnya dari Singaraja mengumpulkan sampah plastik. Dia bukan berprofesi sebagai pemulung melainkan seorang aktivis lingkungan hidup yang fokus pada sampah.
"Kami memang peduli terhadap sampah dan ini cara kami untuk menegur masyarakat dan juga pemerintah agar tidak membuang sampah sembarangan," tandasnya.
Ngurah dan kawan-kawannya meminta Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Singaraja diterjunkan agar dapat membersihkan sampah-sampah usai pawai Ogoh-ogoh.
"Kalau bisa disiapkan truk sampah, dan kretek sampah agar masyarakat tidak buang di pinggir jalan tapi di tempat-tempat yang sudah disediakan," tutupnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.