Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Trump Puji Kediktatoran Saddam Hussein di Irak

Silviana Dharma , Jurnalis-Rabu, 06 Juli 2016 |04:04 WIB
Trump Puji Kediktatoran Saddam Hussein di Irak
Saddam Hussein, Donald Trump dan Moammar Khadafi. (Foto: Antimedia.org)
A
A
A

RALEIGH – Setelah puas menghujat calon lawannya pada 8 November mendatang, Donald Trump mengalihkan topik kampanyenya kepada sosok mendiang Presiden Irak Saddam Hussein. Ia memuji sedikit banyak kediktatoran pria itu selama 30 tahun di negaranya sampai menjadi musuh utama terbesar yang pernah dibenci Amerika Serikat.

“Saddam Hussein adalah pria yang jahat, bukan? Dia adalah orang jahat, sangat jahat. Tapi kalian tahu apa hal terbaik yang dia bisa lakukan? Dia membunuh para teroris. Setidaknya dia sangat bagus dalam hal itu,” pujinya, terkesan agak menyindir, disadur dari Independent, Kamis (7/7/2016).

Membunuh teroris di sini, maksud Trump tidak secara langsung. Akan tetapi, pemerintah AS memanfaatkan dia dengan mengait-ngaitkannya dengan kelompok teroris Al Qaeda dan serangan 11 September 2001.

“Hari ini, Irak telah menjadi universitasnya para teroris. Anda mau menjadi teroris, silakan pergi ke Irak. Di sana benar-benar seperti Harvard (perguruan tinggi yang terkenal). Sangat menyedihkan,” ucapnya di hadapan para pendukungnya di Raleigh, Carolina Utara.

Walaupun terkesan agak menyindir, banyak media barat melihat ini bukan pertama kali Trump melontarkan pujian tentang tokoh dunia yang dikenal bertangan besi. Pada Oktober 2015, pria berdarah Skotlandia itu pernah berujar bahwa dia akan 100 persen lebih baik seandainya diktator seperti Saddam Hussein dan Moammar Khadafi masih berkuasa.

“Terserah Anda suka atau tidak dengan Saddam Hussein, tapi faktanya dia telah digunakan (pemerintahan Bush pada masa itu) untuk membunuh para teroris,” ucap Trump pada Februari lalu saat berkampanye di New Hampshire.

Tuduhan keterlibatan presiden kelima Irak tersebut dengan jaringan teroris Osama bin Laden, faktanya tidak pernah terbukti. Hidup Saddam Hussein berakhir di tiang gantung pada 30 Desember 2006, karena divonis bersalah oleh sidang istimewa Irak atas kasus pelanggaran HAM.

Dia diputus bersalah telah membunuh sedikitnya 148 warga Muslim Syiah di Kota Dujail pada 1982, sebagai pembalasan dendam atas upaya pembunuhan terhadap dirinya.

(Silviana Dharma)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement