Pidato Truman & Nagasaki yang Berubah Bak Kuburan Tak Bernisan

Randy Wirayudha, Okezone · Selasa 09 Agustus 2016 06:09 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 08 18 1458198 pidato-truman-nagasaki-yang-berubah-bak-kuburan-tak-bernisan-nJHAECz8uJ.jpg Nagasaki yang berubah jadi kuburan massal tak bernisan pascadihantam bom atom "Fat Man" (Foto: Wikipedia)

BULAN Agustus selalu terngiang sebagai bulan berkabung bagi warga Jepang. Betapa tidak, setelah Hiroshima diratakan dengan tanah oleh bom atom pada 6 Agustus, Nagasaki juga mengalami nasib yang sama pada hari ini, tepat 71 tahun silam.

9 Agustus 1945 pagi menjelang siang, kota industri dan pelabuhan ini seolah disulap jadi kuburan massal tak bernisan, pascadijatuhkannya bom atom “Fat Man”. Bom atom yang berisi 6,4 kilogram inti plutonium, di mana sedianya daya hancurnya lebih hebat dari “Little Boy” yang dijatuhkan di Hiroshima.

Meski begitu, jumlah korban tewas di Nagasaki memang tak sebesar Hiroshima. Pasalnya, efek ledakannya setidaknya teredam Bukit Urakami.

Namun sudah jadi rahasia umum, bahwa sedianya Nagasaki bukan target utama penghancuran bom atom kedua setelah Hiroshima. Adalah Kota Kokura yang sejatinya terdaftar sebagai bidikan utama, karena di kota tersebut terdapat salah satu pabrik amunisi terbesar Jepang.

Akan tetapi karena kota itu “dilindungi” awan tebal dan kekurangan bahan bakar, Pesawat B-29 Superfotress “Bockscar” pun mengalihkan sasarannya ke Nagasaki. Tepat pada pukul 11.01 waktu setempat, bom atom “Fat Man” dijatuhkan dari Bockscar.

Bom tersebut kemudian meletup dengan dahsyatnya sekira 47 detik setelah kabin penyimpanan bom terbuka dan menjatuhkan “Fat Man”. Bom itu sedikit melenceng tiga kilometer dari titik sasaran, yakni pabrik baja dan persenjataan Mitsubishi, ke sebuah lapangan tenis.

Total sekira 80 ribu nyawa binasa seketika, mulai dari kalangan pegawai pabrik, warga sipil, pelajar, pegawai kantoran, Tentara Angkatan Darat (AD) Jepang, hingga tawanan perang.

Sementara tujuan utama mereka menghancurkan Pabrik Mitsubishi tak sepenuhnya berhasil, karena hanya 58 persen dari komplek pabrik tersebut yang hancur. (Baca juga: Nagasaki di Bawah Bayang-Bayang Hiroshima).

Terkait dijatuhkannya bom atom kedua di Nagasaki, Harry S. Truman, Presiden Amerika Serikat (AS) saat itu yang baru menggantikan Franklin Delano Roosevelt, menyampaikan pidatonya. Pidato Presiden Truman via radio yang disiarkan Gedung Putih pada 9 Agustus 1945 pukul 10 malam waktu setempat, kembali menyelipkan imbauan agar Jepang menyerah, sebagaimana dua sekutunya, Italia dan Nazi Jerman.

Berikut beberapa kutipan pidatonya yang disadur dari Truman Library:

Pemerintah Inggris, China dan AS sudah memberikan peringatan kepada rakyat Jepang soal apa yang akan mereka hadapi. Kami sudah menawarkan syarat di mana mereka bisa menyerah. Namun peringatan kami diabaikan, persyaratan kami ditolak. Padahal Jepang sudah melihat apa yang terjadi dengan bom atom.

Dunia akan mencatat bahwa bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima, sebuah kota basis militer. Kami sebelumnya sudah berharap bisa menghindari serangan pertama ini yang mengharuskan jatuhnya korban sipil. Tapi serangan itu sekadar peringatan keras, bahwa jika Jepang tidak menyerah, bom-bom lain akan dijatuhkan dan sayangnya, nyawa warga sipil akan ikut jadi korban.

Saya mengimbau warga Jepang meninggalkan kota-kota industri sesegera mungkin dan menyelamatkan diri dari kehancuran. Saya menyadari akibat tragis bom atom. Produksinya bukan perkara ringan buat kami putuskan. Tapi kami tahu bahwa musuh kami juga melakukan penelitian ini. Kami sendiri sudah memenangkan perlombaan (produksi bom atom) dengan Jerman.

Kami menggunakannya untuk menyerang pihak yang melakukan serangan terhadap kami tanpa peringatan di Pearl Harbor, terhadap mereka yang membiarkan tawanan perang Amerika kelaparan, tersiksa, dipukuli dan diseksekusi, terhadap mereka yang mengabaikan hukum perang internasional. Kami menggunakannya demi mengurangi penderitaan perang, demi menyelamatkan ribuan pemuda Amerika.

Kami akan terus menggunakannya sampai kami menghancurkan pihak-pihak di Jepang yang mencetuskan perang. Kami akan berhenti jika hanya Jepang menyerah. Kami bersyukur pada Tuhan bahwa (bom atom) ini dimiliki oleh kami, bukan oleh musuh kami dan kami berdoa bahwa Dia akan menuntut kami menggunakannya dengan cara dan tujuan yang dikehendaki-Nya,”.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini