Masa emas dan kebahagiaan Indra bersama Timnas U-19 akhirnya usai. PSSI dengan otoritasnya memecat Indra sebagai pelatih setelah Timnas U-19 terhenti pada babak penyisihan Piala Asia 2014.
Awalnya, PSSI akan mempertahankan Indra bila mampu membawa anak asuhnya melaju ke babak empat besar di Piala Asia. Menjadi semifinalis Piala Asia sama artinya meraih tiket langsung berlaga pada Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru.
Banting Setir Jadi Konsultan
Setelahnya, ayah dari dua anak tersebut memilih menjadi konsultan. Dia bekerja di Akademi Sepakbola Jaya Perkasa Purwakarta yang dibentuk Bupati Dedi Mulyadi.
Usai banting setir menjadi konsultan, pada akhir Desember 2014, pria yang kini berusia 53 tahun ditunjuk menjadi pelatih Bali United dan mendapat kontrak selama lima tahun. Kesamaan visi dan misi yakni keinginan mengembangkan pemain muda menjadi alasan utama Indra menyambut tawaran klub yang awalnya bernama Persisam Putra Samarinda tersebut.
Karena itu, di awal kepelatihan bersama tim yang bermarkas di Stadion Dipta Gianyar tersebut, Indra menolak rencana tim untuk mendatangkan pemain asing. Indra lebih ingin mengorbitkan pemain-pemain muda asli daerah setempat seperti I Nyoma Adi Parwa atau dari provinsi lain macam Yabes Roni (Nusa Tenggara Timur).
Namun, karena kebutuhan tim, Indra sedikit mengubah kebijakannya jelang tampil di turnamen Torabika Soccer Championship (TSC) 2016. Indra menggunakan jasa tiga pemain asing yakni Ahn Byung-Keon (Korea Selatan), Kiko Insa (Spanyol) dan Nemanja Vidakovic (Serbia).
Berkat strategi Indra, serta kombinasi pemain muda dan asing, Bali United sanggup menduduki posisi tujuh dari 18 peserta hingga TSC 2016 memasuki pekan ke-12. Bali United memang jauh dari posisi teratas yang saat ini ditempati Madura United. Namun, Indra tidak ditargetkan membawa Bali United menjadi kampiun musim ini.