JAKARTA - Miris, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi terkini dari gedung Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin yang terletak di Jalan Cikini Raya, Menteng, Jakarta Pusat.
'Harta karun' di bidang sastra dari para pujangga dan sastrawan republik ini terkumpul di gedung yang berdiri sejak tahun 1976.
Penyusunannya pun tak main-main, semua karya emas itu disusun dengan cara purba.
"Ini cara purba katalog dengan map. Harusnya sudah bisa digital katalogisasinya," ujar mantan Menteri Kemaritiman, Rizal Ramli saat ditemui Okezone di Gedung PDS H.B. Jassin, Jumat 26 Agustus kemarin.
Setali tiga uang, kondisi para pegawai pun juga demikian. Ya, mereka hidup jauh dari yang namanya kesejahteraan.
"Di sini ada 11 orang pegawai termasuk office boy. Tapi gaji ya mohon maaf mas di bawah UMR," tutur Agung Triyanggono, salah satu pegawai pengelolaan pelaksana PDS HB Jassin.
Tak lupa ia menyampaikan keluh kesahnya ihwal pegawai yang sudah mengabdi 20 hingga 30 tahun pun tidak juga kunjung mendapat perhatian dari pemerintah.
"Dari pemerintah pusat dan daerah tidak ada perhatian padahal ini adalah aset negara. Kebutuhan mahasiswa mencarinya adanya di sini. Tidak ada lagi di tempat lain," keluhnya.
Alhasil, aset-aset dokumentasi lawas itu memang terlihat tidak terawat. Bayangkan, fumigasi gas untuk perawatan kertas dan buku yang ada pada koleksi sudah empat tahun 'menganggur' alias terabaikan.
Bahkan, pendingin ruangan macam Air Conditioner (AC) pun juga tidak berfungsi. Wajar saja udara pengap langsung terasa saat memasuki setiap ruangan di gedung tersebut.
"Padahal koleksi PDS H.B. Jassin meliputi ada drama 436 judul, drama terjemahan 320, koleksi sastra hampir 10.000 pengarang, 300 ribu judul. Majalah 1.150 judul (hampir 60.000 eksemplar), foto 465 pengarang, lembarannya hampir 12.000-an. Kalau untuk perawatan sudah enggak ada lama-lama bisa rusak aset negara ini," tutupnya.
Untuk diketahui, berdasarkan informasi yang disitat dari laman Wikipedia, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin ini dimulai sebagai dokumentasi pribadi H.B. Jassin, sang tokoh sastra yang dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia.
Jassin menggeluti pendokumentasian sastra tersebut dengan dana dan tenaga yang serba terbatas sejak ia mengembangkan minatnya akan dunia sastra dan pustaka pada tahun 1930-an, ketika usianya belum lagi 30 tahun.
Dokumentasinya ini menggugah perhatian Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin yang akhirnya turun tangan untuk ikut memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.
Karena itulah Ali Sadikin kemudian memberikan tempat kepada H.B. Jassin di salah satu gedung yang terdapat di Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai lokasi Pusat Dokumentasi ini.
Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin didirikan pada 28 Juni 1976. Sejak tahun anggaran 1977/1978, Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberikan subsidi kepada yayasan ini yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra.
Sementara itu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga ikut mendukung pembiayaan lembaga ini tahun anggaran l983/l984. Ada pula sumbangan-sumbangan lain dari para donatur tidak tetap.
(Rizka Diputra)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.