nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jejak Hadratus Syeh KH Hasyim Asy'ari di Makkah

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Jum'at 09 September 2016 06:19 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 09 09 337 1485254 jejak-hadratus-syeh-kh-hasyim-asy-ari-di-makkah-h83l561BtO.jpg (Foto: Saifulloh/Okezone)

MAKKAH - Tanah suci tidak hanya menyajikan jejak-jejak sejarah perjuangan para nabi, rasul dan para sahabat dalam mensyiarkan agama Islam. Di Makkah, terutama, ada pula tempat-tempat yang pernah didatangi para ulama nusantara, untuk menimba ilmu dan berkarya.

Dari sekian tempat itu yang masih eksis hingga sekarang adalah Madrasah Shaulatiyah. Tempat pendiri Nahdatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari menimba ilmu ratusan tahun silam dari gurunya, Syeh Rahmatullah bin Khalil Al Hindi.

“Madrasah ini berdiri sejak 1.147 tahun lalu,” ujar pengelola Madrasah Shaulatiyah, Syeh Majid Said Masud Rahmatullah Al-Utsmani saat memberikan sambutan dalam pertemuan Jam’iyah Nahdatul Ulama Sedunia di Makkah, Kamis (8/9/2016).

KH Hasyim Asy’ari tercatat pernah belajar di Makkah selama enam sampai tujuh tahun lamanya. Di tanah suci, kyai kelahiran Jombang 10 April 1875 itu menuntut ilmu ke sejumlah ulama besar. Di antaranya Syeh Mahfudz bin Abdullah At-Termasy dan Syeh Nawawi Al-Bantany. Hadratus Syeh juga tercatat pernah belajar secara intensif dengan Sayyid Alawi bin Ahmad Assegaf dan Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsy, mufti Madzhab Syafiiyah di Masjidil Haram dan kediaman keduanya.

Kakek Gus Dur tersebut tercatat juga memiliki banyak guru lain, baik dari Makkah maupun dari luar Makkah, semisal Habib Ahmad bin Hasan Al Athas dan Syeh Rahmatullah bin Khalil Al Hindi, pendiri madrasah Shaulatiyah. Kiai Hasyim sendiri merupakan alumni Madrasah Shaulatiyah. Namanya tercantum dalam buku absen tahun 1304 H. Majalah Tarikhiyah Ilmiyah Alumni Madrasah Saulatiyah tahun 1432 edisi 3/tahun ke 3 mencatat, pada 1304 H atau 1893 KH Hasyim Asy’ari pergi ke Makkah untuk menuntut ilmu dan tinggal selama 6 tahun.

Syeh Majid dalam paparannya menjelaskan, pendiri Madrasah Shaulatiyah merupakan keturunan Khulafaur Rosyidin Utsman ibnu Affan. Madrasah ini berhasil dibangun tak lepas dari peran seorang perempuan bernama Shoulatun Nisa. Dialah yang menginfakkan hartanya untuk membeli tanah dan membangun gedung. Atas jasanya, Syeh Rahmatullah, memberi nama tempat belajar ini Madrasah Shaulatiyah. “Karena dinisbatkan ke perempuan tadi,” ujar Syeh Majid dalam Bahasa Arab yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Usai selama seribu tahun lebih mencetak para ulama dunia, lokasi Madrasah Shaulatiyah, yang semula berada sepelemparan batu dari Masjidil Haram harus tergusur. Musababnya, perluasan area Masjidil Haram.

“Sampai kemudian datang proyek perluasan Masjidil Haram dan (Madrasah Shaulatiyah) dipindah ke Kakiyah. Ini adalah gedung kedua yang didirikan pada 1320 H saat Perang Dunia pertama, batu pertama diletakkan dengan dihadiri para ulama dan masyaih Makkah, kemudian pembangunan distop karena masih ada perang dunia. Kemudian dilanjutkan pembangunannya dan baru selesai pada 1343 H,” terangnya.

Melalui layar slide, Syeh Majid juga menunjukkan kepada hadirin bentuk ruangan kelas-kelas madrasah, kemudian kantor para ustaz, perpustakaan, dan fasilitas pendukung belajar mengajar lainnya tempo dulu.

Dia mengungkap, banyak sekali para dermawan menyumbangkan hartanya dan semua namanya tertulis di dinding-dinding madrasah. “Alhamdulillah madrasah Shaulatiyah masih eksis, di sini diajarkan Alquran, ilmu hadits, dan ilmu-ilmu lain, banyak belajar para santri dan mahasiswa dari berbagai belahan dunia di sini. Bahkan madrasah shaulatiyah disebut juga sebagai Al-Azhar-nya tanah Hijaz,” ulasnya.

Lokasi awal Madrasah Shaulatiyah berada di sekitar terowongan Masjidil Haram, sejak beberapa tahun lalu tempat belajar KH Hasyim Ars’ari tersebut berpindah ke Ka’kiyah yang berjarak sekira 10 kilometer arah barat Masjidil Haram.

Wakil Rais Am PBNU KH Miftahul Ahyar dalam sambutannya memaparkan tentang kebesaran NU yang didirikan KH Hasyim Asy’ari sepulang dari belajar di Makkah. Dia mengingatkan kebesaran ini harus diwaspadai agar jangan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang mencari keuntungan dari organisasi. Kebesaran NU harus betul-betul bisa dirasakan oleh anggotanya.

“Sangat tepat sekali saat ini napak tilas tempat belajar Hadratus Syeh sebagai rasa gandrung kita, kita berkumpul dengan siapa, belajar dengan siapa, bagaimana beliau belajar di madrasah ini lalu pulang dengan keberhasilan luar biasa, itu harus kita pelajari sehingga NU yang dilahirkan betul-betul NU seperti yang diinginan KH Hasyim Asy’ari. Saya kira layak dari Makkah ini dimulai muhasabah atau mendesain ulang, karena kewaspadaan di NU sudah sangat menipis. Apakah NU saat ini masih tetap seperti NU yang diinginkan beliau, Islam saja setiap 100 tahun akan datang mujaddid-mujaddid untuk menyegarkan syariatnya, apalagi organisasi, maka perlu ada desain ulang, mengembalikan kesegaran itu pada NU, menata organisasi dengan baik, bagaimana jamaah NU yang besar ini jadi jamiyah sehingga keramat NU tidak hanya untuk organisasinya tapi juga anggotanya,” paparnya.

Sementara itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi silaturahim Pengurus Cabang Istimewa NU Sedunia di tempat KH Hasyim Asy’ari pernah menimba ilmu. Dia berharap semua pihak mendapatkan hikmah dari napak tilas perjalanan hadratus syeh.

“Pertemuan ini sekaligus napak tilas terhadap pengalaman beliau selama menuntut ilmu di madrasah shaulatiyah ini dan lalu semoga kita dapat mendapatkan hikmah dari apa yang beliau pernah alami. Selaku Menteri Agama saya beryukur NU mampu memelihara sekaligus mengembangkan jamiyahnya dalam upaya menyebarkan kemaslahatan yang lebih luas dan tentu terhadap madarasah shaulatiyah kita juga bersyukur karena ini madarasah yang memiliki sejarah panjang yang tentu memberikan kontribusi dan sumbangsih yang begitu besar karena banyak pelajar-pelajar Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan di sini, setamatnya dari sini mereka lalu mampu mengembangkan diri di daerahnya masing-masing,” pungkasnya.

Dari para tamu undangan yang hadir dalam acara ini di antaranya Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh, Ahmad Bagja, PCI NU Arab Saudi Ir Ahmad Fuad Abdul Wahab, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Kadaker Makkah Arsyad Hidayat serta para mukimin.

Tampak di antara para tamu undangan santri-santri Madrasah Shaulatiyah dari Indonesia. Di antaranya adalah Makki Abdul Hamid, pemuda asal Lombok dan Ramadhan Muhammad, putra Madura.

Faktanya, meski terpaut waktu berabad lamanya hingga kini masih ada puluhan anak bangsa yang mengikuti jejak Hadratus Syeh KH Hasyim Asy’ari menimba ilmu di Madrasah Shaulatiyah, Makkah. “Kita ingin lahir Kiai Hasyim-Kiai Hasyim baru dari Shaulatiyah,” demikian harapan KH Miftakhul Ahyar.

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini