Image

Ujian Kesetiaan Cinta di Tanah Suci

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Senin 26 September 2016, 07:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 09 26 337 1498456 ujian-kesetiaan-cinta-di-tanah-suci-lIpWkLfY2L.jpg Sejumlah jamaah haji Indonesia saat berada di Jamarat, Mina. Foto Mohammad Saifulloh/Okezone

MAKKAH – Telapak tangan Mohammad Ihsan (69) tak henti-hentinya menggosok punggung istrinya, Astatik Muniroh (64) di Hotel Holiday Inn, pemondokan jamaah haji Indonesia di sektor 4, Aziziah, Makkah, malam itu.

Sejak tiba dari Madinah, kondisi kesehatan Muniroh drop, penyakit diabetesnya kambuh sehingga kaki kanannya tak bisa berjalan normal. Kondisinya terus memburuk hingga telapak kakinya harus diperban dan dibungkus tas kresek warna putih.

“Darahnya gak berhenti-berhenti keluar mas,” ujar Ihsan sembari membuka handuk kecil yang menutupi kaki istrinya. Terlihat sekujur kaki yang bengkak dan menghitam, warna merah darah pun terlihat begitu jelas dari balik kresek warna putih di bagian telapak kaki. “Saya sudah pasrah dikasih penyakit seperti ini,” Muniroh menimpali.

Selain luka di kaki, nenek dua cucu ini mengeluh tak bisa tidur lantaran rasa ngilu di punggungnya yang acapkali menyergap terutama saat malam. Sentuhan tangan sang suami menjadi semacam penenang agar kantuknya hinggap. Ya, usia pernikahan mereka tak lagi muda, sudah 43 tahun lamanya. Namun, kesetiaan sebagai pasangan hidup justru semakin membuncah kala melaksanakan ibadah haji bersama. Layaknya pasangan muda, terkadang Ihsan menyuapi istrinya agar mau makan.

Sebelum ritual puncak haji, Ihsan yang berprofesi sebagai penjahit memang sempat mengeluh ihwal kondisi istrinya yang tak bisa berjalan normal. Penyakit diabetes juga membuat emosi sang belahan jiwa acapkali tak stabil. Beruntung dia dikaruniai kesabaran hingga tetap bisa menjaga harmoni selama di tanah suci.

“Dos pundi ngih mas, tiyang budal kaji kan kudune bungah, tapi kondisine garwo kulo kados ngenten (Bagaimana ya mas, harusnya orang pergi haji kan bahagia, tapi kondisinya seperti ini,” ujarnya.

Ihsan memang tak bisa bebas beribadah ke Masjidil Haram dan jalan-jalan keliling Makkah seperti jamaah lainnya lantaran harus selalu menunggui sang istri.

Rasa khawatir tak bisa melaksanakan rangkaian ibadah haji secara paripurna juga sempat hinggap di benak Ihsan melihat kondisi istrinya. Ditambah lagi keduanya sempat nyaris kehabisan uang saku karena kebutuhan mendadak. Beruntung, ikhtiar putri tunggalnya di Tanah Air untuk mengirim bekal tambahan membuahkan hasil.

Semangat untuk melakoni panggilan Allah berhaji pun kembali menyala. Kursi roda untuk sarana penunjang mobilitas sang istri berhasil didapat. Ia pun meyakinkan sang istri melakoni ritual haji yang panjang dan melelahkan secara bersama-sama.

Ihsan menuturkan, selama wukuf di Arafah semuanya baik-baik saja. Panas yang menerjang dianggap angin lalu saja lantaran sudah terbiasa hidup dengan cuaca panas di kampungnya, Geluran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Ujian pertama justru ketika Ihsan dan istrinya turun dari bus di Muzdalifah bersama hampir 1,8 juta jamaah haji dari seluruh dunia. Kursi roda yang didorong dari jalan raya menuju area mabit (menginap) terasa sangat berat bahkan tak bisa berputar karena rodanya ambles di medan berpasir. Kendati demikian, dia tak menyerah. Keteguhan hati Ihsan akhirnya berbuah pertolongan. Jemaah lain yang iba berebut mengulurkan tangan, mereka membantu mendorong kursi roda, sementara Ihsan mengangkat kursi roda dari depan agar bisa terangkat.

Setelah bergelut dengan pasir, usaha membawa sang istri ke hamparan karpet merah yang disediakan pemerintah terlaksana sudah.

Malam itu, mereka tidur beratapkan langit. Rasa lelah membuat Ihsan begitu nyenyak, hingga hampir saja dia dan istrinya ketinggalan bus bergerak menuju Mina. “Pas bangun orang-orang sebelah saya sudah pergi, saya langsung angkat istri ke kursi roda, saking buru-burunya istri sampai jatuh, tapi alhamdulillah tidak apa-apa,” tuturnya.

Di Mina, Ihsan yang belum hilang capeknya langsung terlelap begitu mendapat tempat di tenda. Dia pun tak sadar menaruh istrinya di tenda yang salah sehingga kemudian didorong ke lorong-lorong jalan. “Sampai Subuh saya di luar, baru ditolong teman dan dibawa ke tenda,” ujar Muniroh.

Armina memang penuh perjuangan bagi jamaah berusia senja. Melihat kondisi istrinya tak membaik, Ihsan memutuskan mewakili istrinya melempar jumrah. Pria penyabar ini rela berpeluh penat asalkan ibadah istrinya paripurna. Walhasil, ia harus bolak-balik melempar jumrah aqobah, ula dan wustha lantaran mengambil nafar tsani. Sementara sang istri setia menunggu di tenda.

“Nah, pas tawaf ifadhah saya sempat minder melihat puluhan ribu manusia, apa bisa? Mau bayar tukang dorong 400 riyal uang darimana? Tapi kemudian teman jamaah menunjukkan seorang wanita mendorong kursi roda dan buktinya bisa. Akhirnya saya bertekad dan alhamdulillah selesai,” kisahnya.

Perjuangan Ihsan dan Muniroh belum selesai. Usai ritual tahalul, kondisi kaki Muniroh semakin parah. Darah kian mengalir deras dari kakinya. Lagi-lagi kepedulian jamaah lain meringankan bebannya.

“Sampean tak perlu khawatir kami antar sampai klinik, pokoknya tenang saja,” ujar Muniroh menirukan lelaki yang membantu dia dan suaminya.

Kini, hanya kalimat syukur tak henti-hentinya diucapkan keduanya karena berhasil melakoni ritual haji yang sudah menjadi impiannya sejak belasan tahun silam. “Nggih, alhamdulillah, saget haji (Ya, alhamdulillah sudah berhaji),” ujar Ihsan dengan raut wajah sumringah.

Cerita Ihsan dan Muniroh mungkin hanya sekelumit kisah berhikmah tentang makna kesetiaan berumah tangga. Tanah Suci menjadi ladang ujian bagi para pasangan suami istri apakah memiliki tujuan sama, yakni mencari ridho Allah SWT.

Tak jarang terlihat di beberapa titik tempat tawaf, sai, jamarat serta tempat rangkaian ibadah haji lainnya, para pasangan berkain ihram bergandengan tangan sepanjang jalan, saling menguatkan satu sama lain dalam berbagai kondisi ekstrem di tengah rangkaian ibadah haji.

Dalam kondisi panas dan berdesak-desakan, emosi insani dapat terpicu. Begitulah pengalaman lain sepasang suami istri asal Kolaka Timur. “Saat wukuf kami tak kebagian air, istri sampai marah-marah ke saya, saya akhirnya hanya diam dan menghindar saja ke tenda lain. Amarahnya baru reda saat saya dapat air dari jamaah lain,” tutur Nasir (50).

Dia mengaku selama di tanah suci belajar tentang menjaga harmoni bersama sang istri yang telah dinikahi selama 19 tahun dengan cara selalu menggandeng tangan istrinya. Maka, ia pun berusaha mahfum saja ketika sang istri merasa kesal karena kondisinya memang terbatas.

Pertengkaran hebat antara pasangan suami istri juga ditampakkan di pelataran Masjidil Haram usai salat Jumat pada 23 September silam. Di tengah keramaian, suami istri asal India nampak berteriak saling beradu argumen. Pandangan mata ratusan orang seolah mereka abaikan, sang suami yang lari-lari kecil dikejar sang istri, lalu sesekali berhenti dan mengacungkan tangan diiringi suara keras, Masya Allah.

Kisah-kisah memadu kesetiaan para pasangan jodoh di atas hanya sepenggal cerita perjalanan 155.200 jamaah haji asal Indonesia. Ujian bagi mereka seperti dihadirkan Allah SWT agar muncul rasa kepedulian terhadap sesama atau memilih berpuas diri bermesraan dengan sang Khalik semata. Memilih mendampingi istri di kala susah atau egois berburu kesalehan pribadi. Wallahuallam bishawwab.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini