Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ritual 1 Suro, Ribuan Warga Berebut Air Makam Raja Imogiri

Markus Yuwono , Jurnalis-Jum'at, 07 Oktober 2016 |14:50 WIB
Ritual 1 Suro, Ribuan Warga Berebut Air Makam Raja Imogiri
Ribuan Warga Berebut Air Makam Raja Imogiri (Foto: Markus/Okezone)
A
A
A

YOGYAKARTA - Ribuan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya mengikuti tradisi nguras enceh atau tempat air di Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Bantul. Mereka percaya, akan mendapat berkah jika menyimpan air hasil kurasan enceh tersebut.

Sejak pagi, warga sudah mendatangi makam yang terletak di atas bukit untuk menyaksikan dan berebut air kurasan enceh yang tepat berada di depan makam raja-raja Mataram.

Enceh yang dikuras yaitu Kiai Mendung dan Nyai Siyem milik makam Raja-raja Surakarta di sebelah kiri pintu makam, Enceh Nyai Danumurti, dan Kiai Danumaya milik makam Raja Yogyakarta di sebelah kanan pintu masuk makam.

Untuk diketahui, enceh berasal dari kawasan taklukan Sultan Agung yang merupakan pendiri Mataram. Kiai Mendung misalnya, berasal dari Istanbul, Turki; Nyai Siyem dari Siam Bangkok, Thailand; Kiai Danumaya dari Samudera Pasai Aceh; dan Nyai Danumurti dari Palembang.

Salah seorang abdi dalem kraton, penghageng makam raja-raja Imogor, KRT Hasto Ningrat mengungkapkan enceh dibersihkan setahun sekali, yaitu setiap bulan Suro atau Muharam dalam kalender Islam.

Tradisi ritual tahunan yang selalu dilaksanakan setiap hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

"Ini tradisi turun temurun yang harus tetap dijaga," katanya kepada wartawan, Jumat (7/10/2016).

Saat ditanya apakah air tersebut benar-benar membawa berkah, dia menyerahkan kepada kepercayaan yang dipegang masyarakat.

"Itu kan bentuk dan coraknya beda-beda, karena itu dikasih oleh empat kerajaan dalam dan luar negeri. Kalau masalah berkhasiat atau tidak itu tergantung kepercayaan masing-masing,” jelasnya

Dijelaskannya, Kerajaan Mataram merupakan kerajaan Islam. Sehingga, sejumlah ritual tidak bisa lepas dari kandungan ajaran-ajaran Islam, termasuk doa dan tahlil saat prosesi dimulai. Selama mengisi enceh, abdi dalem pun melantunkan salawat.

Marjuki, salah seorang warga mengaku setiap tahun datang untuk 'ngalap berkah'. Ia pun membawa pulang sebotol air bunga, dan makanan yang dibagikan.

Setelah memperebutkan dengan wadah botol air mineral dan lainnya, warga kemudian menuju sebuah pendopo dimana ada beberapa abdi dalem yang membagikan makanan yang terdiri dari nasi gurih, ingkung ayam, dan apem. Sebagian besar tidak dimakan habis, namun menyisakan makanan untuk keluarga di rumah.

(Angkasa Yudhistira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement