Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Waspada! Ini Cara Mengenali Datangnya Hujan Badai

Syamsul Anwar Khoemaeni , Jurnalis-Minggu, 04 Desember 2016 |07:15 WIB
Waspada! Ini Cara Mengenali Datangnya Hujan Badai
A
A
A

JAKARTA – Deputi Bidang Metereologi, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Yunus Swarinoto mengingatkan hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi. Terlebih lagi, saat ini Indonesia tengah memasuki fase pancaroba.

“Hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi pada masa transisi, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya,” ujar Yunus melalui keterangan tertulisnya, Minggu (4/12/2016).

Adapun indikasi terjadinya hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat ialah, sehari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Selain itu, udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT.

“Kurang dari 4.5°C, disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60 persen),” imbuhnya.

Selain itu, Yunus menyebut mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis – lapis). Diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu – abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

“Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu – abu / hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus),” jelasnya.

Sementara pepohonan disekitar tempat kita berdiri, lanjut Yunus, ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat. Selanjuntya, terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri.

“Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba – tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita,” sambugnya.

Jika 1 – 3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim transisi, pancaroba, atau penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak. Yunus pun memaparkan sifat-sifat putting beliung atau angin kencang berdurasi singkat.

“Sangat lokal, luasannya berkisar 5 – 10 km, waktunya singkat sekitar kurang dari 10 menit. Lalu lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba),” papar Yunus.
Sifat lainnya ialah lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari. Selanjutnya bergerak secara garis lurus, tidak bisa diprediksi secara spesifik, hanya bisa diprediksi 0.5 – 1 jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda – tandanya dengan tingkat keakuratan < 50 persen.

“Hanya berasal dari awan Cumulonimbus, bukan dari pergerakan angin monsoon maupun pergerakan angin pada umumnya), tetapi tidak semua awan Cb menimbulkan puting beliung, Kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama,” tandasnya. (sym)

(Abu Sahma Pane)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement