YOGYAKARTA – Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) Yogyakarta meminta masyarakat untuk tidak mempercayai isu gempa Pidie Jaya Aceh, pada Rabu 7 Desember, berpengaruh terhadap aktivitas Gempa di Yogyakarta.
"Gempa Aceh terjadi karena aktivitas sesar lokal di darat yaitu Sesar Samalanga-Sipopok. Artinya, tidak ada kelurusan dengan sesar di Yogyakarta sehingga kecil kemungkinan sesesar Yogya terpengaruh," kata Kepala BMKG Yogyakarta, Nyoman Sukanta saat dihubungi Okezone, Kamis (8/12/2016).
Ia menyatakan, Yogyakarta memang memiliki sejarah gempa yang cukup besar dan berada di wilayah rawan gempa. Terakhir, gempa besar terjadi pada 27 Mei 2006, sekira pukul 05.54.00 WIB di lokasi 8,03 LS - 110,32 BT pada kedalaman 11,8 km dan kekuatan 5,9 magnitude bodi (mb). Dampak yang diakibatkan di wilayah DIY dan Jawa Tengah yakni 5.782 lebih orang meninggal dunia, 26.299 lebih luka berat dan ringan, 390.077 lebih rumah roboh.
"Yogya punya sejarah pernah terjadi gempa bumi yang cukup besar. Artinya Yogya merupakan daerah rawan gempa bumi," tuturnya.
Nyoman menjelaskan, sampai saat ini belum ada teknologi yang memprediksi gempa bumi yang akan terjadi. Oleh karena itu, pihaknya meminta masyarakat tetap waspada serta memahami wilayahnya mempunyai potensi bencana. Masyarakat diharapkan mengenal gempa serta menyiapkan rencana saat terjadi gempa.
"Jangan percaya isu yang menyesatkan. Bilamana perlu bisa konfirmasi ke BMKG terdekat jika ada isu terjadinya gempa," tuturnya.
Perlu diketahui, dalam bulan November lalu, masyarakat Yogyakarta merasakan gempa dengan intensitas ringan, baik yang berpusat di Yogyakarta dan daerah lainnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.