BANDA ACEH – Setelah terjadi bencana gempa dan tsunami 12 tahun silam, Aceh kini sudah memiliki gedung evakuasi (escape building) dan alat canggih pendeteksi potensi tsunami. Jalur evakuasi juga mulai dibuat di area yang pernah diterjang tsunami 26 Desember 2004.
Gedung evakuasi dibangun atas bantuan Jepang. Gedung empat lantai itu dibangun untuk mempermudah masyarakat melakukan proses evakuasi diri saat bencana tiba.
Namun, kini sangat jarang dimanfaatkan warga bahkan waktu ada gempa besar pun warga banyak memilih menjauh dari pantai ketimbang naik ke gedung itu. Seperti saat gempa 8,6 skala richter (SR) mengguncang Aceh pada 11 April 2012, sedikit sekali masyarakat yang berlindung di atas gedung tersebut. Warga dekat pantai yang khawatir dengan tsunami lebih memilih lari ke wilayah Lampeuneurut atau Lambaro, salah satu daerah yang jauh dari laut di Banda Aceh.
Seperti yang dilakukan warga Gampong Lambung, Banda Aceh. Sebagian besar dari mereka memilih untuk mengevakuasi diri ke wilayah yang jauh dari laut waktu itu. Lantai teratas escape building tidak sampai penuh dipadati oleh warga.
Di Banda Aceh, setidaknya ada tiga bangunan escape building dibangun di pesisir. Belum lagi escape building yang kini digunakan sebagai Kantor Tsunami and Disaster Mitigation Reserch Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, satu bangunan dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Museum Tsunami atasnya juga bisa dijadikan lokasi evakuasi.
Escape building di Banda Aceh (Rayful/Okezone)