Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Menilik Gedung Evakuasi dan Sistem Peringatan Tsunami di Aceh

Rayful Mudassir , Jurnalis-Senin, 26 Desember 2016 |18:51 WIB
Menilik Gedung Evakuasi dan Sistem Peringatan Tsunami di Aceh
Gedung evakuasi tsunami (escape building) bantuan Jepang di Dayah Geulumpang, Banda Aceh (Salman Mardira/Okezone)
A
A
A

(foto Rayful/Okezone)

Eridawati memastikan permasalahan lampu itu tidak berpengaruh pada sistem. Pihaknya selalu melakukan pengecekan dan masih dalam kondisi baik. Jika berada dalam kendala, pihaknya langsung melakukan perbaikan.

“Itu kekhawatiran masyarakat saja. Sebelum melakukan pengecekan sistem, biasanya selalu mematikan sirine luar dulu, karena bukan wilayah kami. Terkadang juga saat aktivasi pertama terjadi kendala, kita perbaiki dan saat kita coba aktivasi kedua, kembali normal sistemnya,” ungkap Erida.

Pembunyian sirine terakhir kali dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) pada 2014, saat dilakukan simulasi besar-besaran di wilayah Ulee Lheue, Banda Aceh, salah satu daerah paling dekat dengan laut. Namun dua tahun berselang, suara sirine tak pernah berdengung lagi.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBA, Mukhsin Syafii menerangkan, pengaktivan sistem sirine tsunami berada di BPBA. Pihaknya dibantu oleh BMKG dalam melakukan aktivasi. Ia menyebut pengaktivan sirine dengan mengeluarkan suara, dikhawatirkan membuat trauma masyarakat.

"Biasanya kita melakukan sosialisasi dulu sebelum membunyikan sirine yang ada. Saya tidak yakin masih ada masyarakat masih trauma. tetapi bukan tidak mungkin sirine akan membuat mereka mengingat masa lalu," jelas Mukhsin.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement