Gedung evakuasi itu dibangun untuk mempermudah warga melakukan penyelamatan darurat saat terjadi bencana. Mitigas bencana juga dipengaruhi dengan adanya sistem deteksi tsunami yang disebut Tsunami Early Warning System (TEWS).
Sirine tsunami itu dibangun dienam titik yang tersebar di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Aceh Barat. Pengecekan sistem tersebut dilakukan setiap bulan pada tanggal 26.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Mata Ie, Aceh Besar, Eridawati mengatakan, pihaknya hanya melakukan pengecekan sistem di setiap bulannya, termasuk hari ini saat peringatan 12 tahun tsunami yang menimpa Aceh.
“Kita periksa di setiap bulan, untuk pengecekan, BMKG hanya melakukan pengecekan aktivasi saja di enam sirine yang tersebar,” kata Erida kepada Okezone, Senin (26/12/2016).
Dirinya tidak bisa menjamin saat terjadi gempa, sirine akan pasti berbunyi. Aktivasi bunyi sirine tsunami itu, kata dia bukan wewenang BMKG, namun pemerintah daerah yang dikomandoi oleh BPBA.
Seorang warga Ulee Lheue, Kasnidar mengaku, sirine tersebut terkesan tidak dirawat. Pasalnya, lampu sirine yang saban hari hingga malam menyala, kini padam.
“Saya selalu lewat di situ, tapi sudah mati lampunya. Kami bahkan tidak pernah mendengar suaranya bagaimana,” kata Kasnidar.