BEIJING - China menyambut Imlek saat dilanda krisis kabut asap. Akibat hal tersebut, Pemerintah Beijing menyarankan warganya untuk tidak menyalakan kembang api. Namun, tampaknya saran tersebut telah diabaikan.
Sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (28/1/2017) sebagian besar warga ibu kota negeri Tirai Bambu harus mengalami sesak napas pada Sabtu pagi waktu Beijing akibat pesta kembang api yang digelar malam sebelumnya untuk menyambut Imlek. Asap kembang api diketahui telah memicu meningkatnya kadar polusi.
Biro Perlindungan Lingkungan Beijing menyatakan, kadar partikel berbahaya yang mencemari udara telah mencapai batas tertinggi kedua selama lima tahun terakhir. China diketahui berperang melawan polusi atau krisis kabut asap sejak 2014. Diduga, menjamurnya industri dan meningkatnya jumlah kendaraan memicu tingginya tingkat polusi.
Anjuran untuk tidak menyalakan kembang api saat Imlek merupakan salah satu upaya Pemerintah Beijing untuk mencegah pencemaran udara yang semakin parah. Pesta kembang api seperti telah menjadi tradisi wajib bagi masyarakant China dalam marayakan Imlek.
Sebelumnya, Pemerintah Beijing telah meminta para pejabat untuk tidak menyalakan kembang api dan proaktif mengajak masyarakat untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, pemerintah juga telah membatasi penjualan kembang api.
Kantor berita Xinhua melaporkan, tingkat pembelian kembang api menurun 4,9 persen. Namun, hal tersebut tidak berhasil mencegah meningkatnya polusi berbahaya di China. Polusi diketahui meningkat drastis hanya dalam hitungan jam.
Tingkat polusi di Kota Beijing mencapai PM2,5 (Particle Matter) dan mampu merusak kesehatan manusia. Berdasarkan keterangan Kementerian Nasional Perlindungan Lingkungan China, pada Sabtu pagi polusi di Beijing tercatat meningkat 647 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut jauh melampaui batas maksimum indeks kualitas udara normal, 500 mikrogram.