SUATU sore di kawasan Malioboro, tepatnya antara dekat Gedung Agung dan Gereja GPIB Jemaat Margomulyo, penulis asyik menikmati suasana dengan menyeruput wedhang ronde, salah satu minuman khas di Yogyakarta. Duduk di sebuah taman kecil, ada rasa penasaran juga terhadap satu bangunan berbentuk tugu dengan jam di atasnya.
Awalnya, penulis tak paham akan kisah di balik tugu jam itu, sampai ketika bersua rekan penggiat sejarah dari Komunitas Malam Museum Samantha Aditya. Diceritakan, ternyata dulu tugu jam itu merupakan hadiah dari Pemerintah Belanda pada 1916.
Jam bundar tersebut ditopang bangunan tugu setinggi 1,5 meter dan dulunya punya nama asli Stadsklok atau “Jam Kota”. Sayang memang tak ada pahatan tulisan apa pun mengenai keterangan jam itu di sekitar bangunan tugunya.
“Kalau masyarakat umum (di Yogya) biasanya menyebutnya ‘Ngejaman’. Itu jam besar itu dari zaman Belanda, hadiah untuk memperingati 100 tahun berakhirnya penjajahan Inggris atas Belanda,” terang Samantha.