Di sisi finansial, jasa ini juga lebih “murah meriah” ketimbang beli mobil yang butuh sopir dan mengisi bahan bakarnya. Sejak itu, jasa antar/angkut dengan sepeda ini menyebar ke perkotaan, hingga ke Ibu Kota.
Tapi di Jakarta pada 1970, jasa angkut dengan sepeda ini lebih ramai dibutuhkan di Pelabuhan Tanjung Priok. Pasalnya kala itu di pelabuhan, masih ada larangan becak atau angkutan bermotor lainnya untuk masuk pelabuhan.
Lambat laun, sarana ojek sepeda ini menyebar ke seantero Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Inovasi tentang sarana kendaraan untuk ‘ngojek’, juga kembali bermula di Jawa Tengah.
Saat di Jakarta masih ramai ojek sepeda, di Jawa Tengah sudah mulai mengalihkan kendaraannya dengan sepeda motor yang saat itu, paling lazim yang digunakan motor pabrikan Jepang dengan mesin 90cc.
Lama-kelamaan, di kota-kota besar, termasuk Jakarta, mulai kembali meniru untuk mengalihkan kendaraan ojeknya dari sepeda ke sepeda motor, hingga yang kita lihat hari ini. Memang ojek bukan bertipe angkutan massal, namun tetap saja ojek acap jadi alternatif warga menembus kemacetan, terutama di Jakarta.