nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rekam Jejak Dato' Seri Zahrain Mohamed Hashim dari Pebisnis hingga Diplomat

Silviana Dharma, Jurnalis · Kamis 08 Juni 2017 11:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 08 18 1710712 rekam-jejak-dato-seri-zahrain-mohamed-hashim-dari-pebisnis-hingga-diplomat-Adwoj9p0Kd.JPG Dubes Malaysia untuk Indonesia, Datuk Sri Zahrain Mohamed Hashim. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

JAKARTA - Dubes Malaysia untuk Indonesia Dato’ Seri Zahrain Mohamed Hashim (62) sebelumnya dikenal sebagai seorang pebisnis dan politisi. Namanya dan latar belakang keluarganya termasuk yang termahsyur di Malaysia.

Secara akademis, dia menyandang gelar di bidang ilmu matematika terapan. Usai lulus S1 hingga S2 dari universitas di Inggris, pria ini malah memilih terjun ke dunia bisnis.

Dia mengawalinya dengan menjadi kepala pelabuhan di Penang Port Commission, Penang pada 1993. Dia bertanggung jawab untuk mengatur perniagaan di pelabuhan tersebut.

Kinerjanya terbilang amat bagus. Prestasi itu mengantarkan dia jadi Direktur Eksekutif Penang Port Sdn Bhd selama tujuh tahun. Sejak dia menjabat, pelabuhan semakin ramai dan banyak jalur pelayaran baru dibuka melintasi Penang.

Kakek empat cucu itu lantas dipandang sebagai ahlinya pelabuhan. Ia diundang ke seminar-seminar. Berbicara dan memberi motivasi tentang pengelolaan pelabuhan yang baik. Bahkan menjadi anggota aktif International Cargo Handling Coordination Association (ICHCA) dan ikut membentuk Federation of Malaysian Port Operating Companies (FMPOC).

Dato’ Seri terpilih sebagai ketua pertama FMPOC. Dan di situ dia memainkan peranan penting dalam mendorong terjalinnya hubungan yang erat dengan instansi pemerintah. Hal ini menjadi kontribusi penting Beliau terhadap pembangunan nasional.

“Saat itu, saya pikirnya ingin teruskan bisnis keluarga saja. Jadi kepala pelabuhan di Pulau Pinang. Saya 10 tahun berkecimpung di pelabuhan itu,” ujarnya dalam program Special Dialogue di kantor Okezone pada Rabu 7 Juni 2017.

Namun begitu, memperkaya diri bukan suatu kepuasan baginya. Melayani masyarakat dan mengabdi kepada negara lah yang jadi panggilan hidup Beliau.

Begitulah, Dato’ Seri terjun ke dunia politik. Waktu itu namanya lolos pemilihan sebagai Kepala Divisi Tanjong United Malay Nation Organization (UMNO). Tak lama, dia meninggalkan UMNO dan bergabung ke Partai Keadilan Rakyat (PKR) pada 2004.

Ketika berseragam PKR itulah pria kelahiran 12 November 1955 itu ikut pemilu parlemen. Pada 2008, dia memenangkan kursi di parlemen mewakili Bayan Baru. Selang dua tahun, dia keluar dari PKR dan menjadi anggota parlemen yang independen.

Pada penghujung masa jabatannya pada 2013, Dato’ Seri menolak dicalonkan kembali. Sultan Malaysia mengambil kesempatan ini untuk meminangnya. Dia diminta mengabdi kepada negara di negeri orang. Tempat penugasan terbuka dan Dato’ Seri memilih Indonesia.

Sultan setuju dan melantiknya menjadi Duta Besar Malaysia untuk Indonesia pada November 2013. Kini sudah empat tahun dia di Indonesia. Lebih lama dua tahun dari perjanjian di awal. Pada Oktober mendatang, masa tugas Dato’ Seri berakhir. Akan tetapi, hingga kini penggantinya belum ditemukan. Sementara pemerintah Malaysia tengah mempertimbangkan untuk memperpanjang masa tugasnya di Indonesia setahun lagi.

“Dalam kehidupan ini sudah banyak yang saya lalui. Karier saya banyak dan berbeda-beda. Tetapi, bagi saya yang memerlukan cukup banyak kesabaran yaitu ketika menjadi diplomat,” ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini