MANILA - Kepolisian Filipina menuai kecaman publik setelah dituding dengan sengaja membunuh seorang pelajar berusia 17 tahun. Pembunuhan itu disebut berlangsung dalam perang melawan obat-obatan terlarang yang dicanangkan oleh Presiden Rodrigo Duterte.
Remaja yang diketahui bernama Kian Loyd Delos Santos menjadi satu dari sekurangnya 80 orang yang ditembak mati pekan ini dalam upaya pemberantasan narkoba di Filipina. Berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Filipina, Santos ditembak karena melakukan perlawanan dan melepaskan tembakan terhadap polisi.
Namun, keterangan tersebut diragukan publik setelah sebuah saluran televisi lokal menampilkan rekaman cctv terkait kronologi kejadian. Rekaman cctv tersebut menunjukkan, Santos secara paksa dibawa oleh dua orang polisi ke sebuah wilayah di mana kemudian mayatnya ditemukan.
Melansir Daily Mail, Minggu (20/8/2017), seorang saksi mata mengklaim bahwa remaja tersebut sama sekali tidak memiliki senjata sebelum ditangkap. Saksi yang tak disebutkan identitasnya itu menyebut bahwa polisi justru memberikan sebuah pistol pada Santos dan memintanya melepaskan tembakan lalu menyuruhnya kabur.
Kepala Polisi Nasional, Ronald dela Rosa menyatakan, jika siswa kelas 11 sekolah menengah atas itu tidak terbukti menimbulkan ancaman maka petugas yang menembaknya akan dimintai pertanggungjawaban."Pikirkan saja ia hanyalah anak kecil. Dan bagaimana jika itu terjadi pada keluarga Anda? Kami akan menyelidiki kasus ini. Saya jamin itu," ujar Rosa.