SOCHI – Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu mengeluhkan pengaruh Iran yang semakin besar di Suriah kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin. Keluhan itu disampaikan ketika Netanyahu mengunjungi Sochi pada Rabu 23 Agustus 2017.
“Pak Presiden dengan usaha bersama kita dalam mengalahkan ISIS dan ini merupakan hal yang sangat penting. Tapi yang buruk adalah di mana kelompok ISIS lenyap, Iran melangkah masuk,” ujar Netanyahu kepada Putin, sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (24/8/2017).
Perdana Menteri Israel itu menegaskan bahwa hal yang tidak bisa dilupakan adalah Iran terus mengancam setiap harinya untuk menghancurkan Israel. “Negara itu mempersenjatai organisasi teroris, mensponsori dan memulai teror,” tambah Netanyahu.
Ia menyebut bahwa Iran saat ini sedang dalam perjalanan untuk mengendalikan Irak, Yaman dan sebagian besar dalam prakteknya mengontrol Lebanon. Mendengar keluhan tersebut, Putin pun tidak memberikan responsnya terkait peran Iran di Suriah.
Keluhan mengenai Iran sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan oleh Netanyahu yang didukung oleh pemberitaan media Israel. Salah satunya adalah ketika Media 2 di Israel memberikan laporan yang menyebut Iran membangun sebuah bangunan yang disinyalir sebagai pabrik untuk pembuatan roket jarah jauh di wilayah barat laut Suriah.
Media Channel 2 mewartakan, gambar-gambar yang disebut diabadikan oleh satelit milik Israel menunjukkan sebuah lokasi fasilitas di wilayah Suriah bagian barat laut. Media Israel itu melaporkan dari bentuk konstruksi di fasilitas tersebut mengindikasikan peledak disimpan di sana.
Kemudian media Israel itu membandingkan gambar fasilitas tersebut dengan pabrik roket milik Iran yang berada di dekat Teheran. Channel 2 mengklaim, terdapat kesamaan yang kuat antara dua bangunan tersebut.
Terkait persenjataan Iran, beberapa pekan yang lalu Parlemen Iran mengadakan pemungutan suara terkait peningkatan dana dalam anggaran belanja program pengembangan rudalnya. Pada rapat yang diadakan 13 Agustus 2017 itu sekira 240 dari total 244 anggota Parlemen Iran menyetujui untuk mengalokasikan dana sekira Rp6,9 triliun dalam pengembangan program rudal serta meningkatkan operasi pasukan paramiliter di luar negeri.
Peningkatan anggaran belanja militer Iran ini disinyalir sebagai bentuk respons Teheran terhadap sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada awal Agustus 2017. Sanksi itu diberikan setelah Iran berhasil melakukan uji coba peluncuran roket yang disebut dapat mengirim satelit ke orbit bumi.
Iran geram dengan sanksi tersebut dengan menegaskan bahwa program rudalnya tidak melanggar resolusi PBB 2015. Bila mengacu dengan resolusi tersebut, Iran hanya dilarang untuk tidak melakukan aktivitas terkait pengembangan rudal balistik yang dapat membawa senjata nuklir. Iran mengklaim rudal yang mereka miliki dan kembangkan saat ini bukanlah rudal seperti itu.
(Emirald Julio)