Share

HISTORIPEDIA: Diterjang Dua Peluru dari Jarak Dekat, Pemimpin Soviet Selamat dari Upaya Pembunuhan

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 30 Agustus 2017 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 28 18 1764711 historipedia-diterjang-dua-peluru-dari-jarak-dekat-pemimpin-soviet-selamat-dari-upaya-pembunuhan-42FzFMpBKM.jpeg Foto: Vladimir Lenin. (Foto: BBC)

PADA 30 Agustus 1918, Pemimpin Uni Soviet, Vladimir Lenin baru saja selesai berpidato di Palu dan Arit, sebuah pabrik di Moskow, saat Fanny Kaplan, seorang anggota oposisi dari Partai Revolusi Sosial, melepaskan tiga tembakan ke arahnya. Satu peluru meleset menembus jaket Lenin sementara dua peluru lain mengenai leher dan bahunya.

Beberapa saat setelah penembakan itu, Lenin dilarikan ke rumahnya di Kremlin. Dia khawatir akan ada anggota komplotan Kaplan lain yang berusaha membunuhnya. Lenin juga menolak meninggalkan Kremlin yang aman untuk berobat.

Dokter yang dipanggil untuk merawatnya tidak mampu menarik peluru dari tubuh Lenin tanpa operasi di rumah sakit. Meski mengalami luka parah akibat upaya pembunuhan itu, Lenin berhasil selamat.

Kaplan yang ditangkap setelah melepaskan tembakan diinterogasi oleh Cheka, organisasi keamanan Uni Soviet. Dalam keterangannya, Kaplan menyatakan dia telah lama memutuskan untuk menghabisi Lenin yang menurutnya telah berkhianat pada revolusi.

“Nama saya Fanya Kaplan. Hari ini aku menembak Lenin. Saya melakukannya sendiri. Saya tidak akan mengatakan dari siapa saya mendapatkan revolver saya. Saya tidak akan memberikan rinciannya. Saya telah memutuskan untuk membunuh Lenin sejak lama. Saya menganggapnya sebagai pengkhianat terhadap Revolusi,” demikian isi pernyataan Kaplan pada Cheka.

Setelah menyadari bahwa Kaplan tidak akan bekerjasama dan mengungkap siapa komplotannya, dia dieksekusi di Taman Alexander di Kremlin pada 3 September 1918, tanpa melalui proses persidangan. Kepalanya ditembak dari belakang dan jasadnya dimasukkan ke dalam tong sebelum dibakar.

Upaya pembunuhan terhadap Lenin memicu tindakan pembalasan dari Partai Bolshevik terhadap Partai Revolusi Sosial dan lawan-lawan politiknya yang lain. Tindakan yang dikenal dengan nama “Teror Merah” (Red Terror) itu diumumkan pada hari yang sama dengan eksekusi Kaplan dan berakhir pada Oktober 1918. Selama kampanye “Teror Merah”, kaum Bolshevik melakukan pembunuhan massal, penyiksaan dan penindasan sistematis terhadap lawan-lawannya.

Lenin tidak pernah benar-benar pulih dari luka yang dideritanya dari penembakan tersebut. Banyak yang meyakini bahwa kejadian itu berkontribusi pada stroke yang melumpuhkan dan membawa Lenin pada kematiannya pada 1924.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini