Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

HISTORIPEDIA: Lebih Dahsyat dari Harvey, 2 Abad Lalu Badai Ini Tewaskan Ribuan Orang di Texas

Djanti Virantika , Jurnalis-Jum'at, 08 September 2017 |06:05 WIB
HISTORIPEDIA: Lebih Dahsyat dari Harvey, 2 Abad Lalu Badai Ini Tewaskan Ribuan Orang di Texas
Bangunan di Galveston luluh lantak setelah diterjang badai dahsyat pada 1900. (Foto: Mediadrumworld.com/Daily Mail)
A
A
A

WILAYAH Amerika Serikat belakangan ini terus diterjang badai. Paling baru, Badai Irma menerjang wilayah Kepulauan Karibia hingga menyebabkan 95% bangunan di sana hancur. Sebelum Badai Irma, negara bagian Texas juga luluh lantak dihantam Badai Harvey. Badai ini mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia. Banjir yang menerjang wilayah Texas ini juga menyebabkan puluhan ribu orang harus mengungsi.

Kedahsyatan Badai Harvey dan Badan Irma ternyata belum seberapa jika dibandingkan dengan badai yang pernah menerjang Texas pada 1900. Seperti “kapal pecah”, mungkin itu istilah yang tepat untuk menggambarkan keadaan wilayah Galveston, Texas, setelah dihantam badai tersebut.

Pulau Galveston yang terletak persis di lepas pantai Texas menjadi tujuan awal badai tersebut. Posisinya yang strategis membuat Galveston disinggahi banyak orang. Tempat ini pun menjadi pelabuhan utama. Sebagai pusat perdagangan utama pada akhir abad 19, rute kereta api banyak ditujukan ke wilayah tersebut.

Pada Jumat 7 September 1900, penduduk di Galveston telah mendapat peringatan bahwa badai dahsyat telah mendekati wilayahnya. Pantai di Texas telah diterjang badai itu selama beberapa hari. Badai telah melintasi Teluk Meksiko dan Florida Keys.

Badai dahsyat itu menerjang Galveston pada Sabtu 8 September 1900 sore. Saat itu, penduduk Galveston sudah mendapat peringatan adanya badai yang akan mendekati wilayah tersebut. Sebelum menghampiri Galveston, beberapa hari badai terjadi di pantai Texas. Angin besar itu melintasi Teluk Meksiko dan Florida Keys.

Badai baru melanda Galveston keesokan harinya, yakni pada Sabtu 8 September 1900. Kecepatan angin saat itu mencapai 115 mil per jam. Namun, badan pengukur angin di kota memperkirakan angin bertiup lebih kencang.

Badai besar akhirnya benar-benar menerjang wilayah Galveston pada pukul 15.00 waktu setempat. Badai kategori 4 itu datang dengan gelombang air setinggi 15 kaki atau sekira 5 meter. Akibatnya, hampir seluruh wilayah Galveston terendam air. Menurut Mercusuar Bolivar Point, ketinggian air bahkan mencapai 115 kaki atau sekira 38 meter.

Dahsyatnya badai membuat bangunan runtuh dan terjatuh. Terjangan air dan kencangnya angin merobek atap hampir semua bangunan di kota. Atap bangunan yang sebagian besar terbuat dari batu menjadi musibah terbesar bagi masyarakat di sana. Pasalnya, angin besar telah membuat atap-atap itu terlempar ke udara dan berjatuhan menimpa masyarakat.

Masyarakat pun berbondong-bondong mencari tempat yang lebih aman. Mereka berlindung di bawah bangunan-bangunan utama di kota tersebut. Panti asuhan dan gereja menjadi beberapa opsi tempat mereka menyelamatkan diri.

Masyarakat yang selamat mencari korban tewas. (Foto: Mediadrumworld.com/Daily Mail)

Namun, besarnya angin yang dibawa badai tersebut, ternyata berhasil meruntuhkan bangunan-bangunan yang digunakan untuk berlindung. Salah satu bangunan tersebut adalah Panti Asuhan St Mary. Tempat itu runtuh sehingga seluruh penduduk yang berada di sana tewas karena tertimpa reruntuhan bangunan.

Tak hanya panti asuhan, Biara Ursulin yang juga menjadi tempat berkumpulnya penduduk Galveston tak sanggup menahan kencangnya terjangan badai. Sebanyak 1.000 orang yang diperkirakan berkumpul di sana tewas setelah tembok penahan setinggi 10 kaki terjatuh. Seluruh bagian depan biara itu runtuh akibat badai tersebut.

Selain meluluhlantakkan bangunan, kapal-kapal yang berada di pelabuhan juga turut menjadi sasaran. Badai melempar satu kapal ke kapal lainnya. Setelah badai usai, beberapa kapal ditemukan terlempar hingga sejauh 30 mil.

Korban selamat dalam kejadian itu mengaku melihat mayat-mayat mengambang di seluruh dan di sekitar pulau. Badai dahsyat ini telah menelan nyawa ribuan orang. Sekira 6.000 orang dikabarkan tewas akibat badai ini. Angka pasti mengenai korban jiwa ini tak pernah diketahui. Bahkan ada pihak yang menduga bahwa korban tewas sebanyak 12 ribu orang.

Angka yang tak pasti ini diketahui karena terlalu banyaknya masyarakat yang tewas. Karena bingung untuk menguburnya, mayat sebagian korban tewas dikabarkan dibuang di Teluk Meksiko. Korban tewas itu dibuang sebelum dihitung ataupun diidentifikasi terlebih dahulu.

Menurut seorang anggota Palang Merah yang datang ke Galveston, Clara Barton, kondisi di sana benar-benar mengerikan. Ia dan teman-temannya datang segera setelah bencana itu berakhir.

"Akan sulit untuk menceritakan secara jelas peristiwa mengerikan ini," ujar Clara Barton, sebagaimana dikutip dari History, Jumat (8/9/2017).

Masyarakat saling bahu-membahu membersihkan puing-puing dari bangunan yang hancur. (Foto: Mediadrumworld.com/Daily Mail)

Ini merupakan peristiwa paling mengerikan yang pernah dialami warga Galveston. Tak ingin terlarut dalam kesedihan, mereka pun mulai membangun kembali Galveston. Pada 2 Oktober 1902, konstruksi dimulai di dinding laut. Mereka berusaha membuat pelindung besar yang dapat menyelamatkan mereka dari bencana.

Dua tahun kemudian, tembok setinggi 16 kaki dan setebal 17 kaki selesai dibangun. Tembok itu terbuat dari semen, batu, dan balok baja. Pada 1910, populasi Galveston tumbuh menjadi 36 ribu orang. Berkat persiapan yang telah dilakukan, saat badai yang sama menerjang wilayah tersebut pada 1915, hanya 8 orang yang tewas. (DJI)

(Rahman Asmardika)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement