SEBENTAR lagi umat Islam di seluruh negara kehadiran bulan Muharam. Ini merupakan bulan yang sangat mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala di antara tiga bulan suci lainnya yakni Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Lalu di Indonesia sendiri diketahui terdapat berbagai tradisi yang mengiringi hadirnya Muharam. Salah satunya ada tradisi Mubeng Benteng di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar tradisi Mubeng Beteng atau mengelilingi benteng setiap malam 1 Suro (Muharam). Biasanya kegiatan ini diikuti ratusan atau bahkan ribuan orang yang berasal dari Yogyakarta hingga luar kota.
(Baca: OKEZONE STORY: Kisah Kirab Kebo Bule Solo di Malam 1 Suro, Tlethong-nya pun Jadi Rebutan)
Sebelum berlangsungnya Mubeng Beteng, peserta melakukan pembacaan macapat atau kidung berbahasa Jawa. Ketika menjalani ritual tersebut seluruh Abdi Dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan membawa bendera atau panji.
Tradisi Mubeng Beteng dilakukan oleh Abdi Dalem Keprajan dan Punokawan beserta masyarakat dengan memutari seluruh kawasan keraton. Uniknya, mereka semua menjalankannya tidak menggunakan alas kaki serta tak berbicara (tapa bisu) kemudian mengelilinginya dengan jumlah ganjil.
(Baca: OKEZONE STORY: Sambut Muharam, Ketahui Tradisi Grebeg Suro Sekaligus Pelestarian Reog Ponorogo)
Kebiasaan Mubeng Beteng ini memiliki makna pengungkapan rasa prihatin, instrospeksi diri, dan ungkapan syukur kepada bangsa. Sedangkan prosesi tapa bisu menggambarkan keheningan bentuk ibadah umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan hal-hal tersebut diketahui bahwa tradisi Mubeng Beteng memiliki makna mendalam di balik urutan demi urutannya. Ditambah lagi sebagai pelestarian budaya yang belakangan mulai luntur dimakan zaman.
(Hantoro)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.