Muradi yang mengaku telah membaca buku tersebut mengungkap sejumlah keistimewaan dari buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1953 itu. Menurut Muradi, A.H. Nasution memadukan pengalamannya dalam perang gerilya dengan sejumlah teori yang ia dapatkan semasa menjalani pendidikan militer dengan cara yang sangat apik.
"Banyak ya (keistimewaan). Karena dia mencampurkan antara pengalaman dengan teori yang ia dapatkan selama dia bersekolah militer Belanda waktu itu kan. Dan dia meramu itu," tutur Muradi.
Selain itu, Muradi mengagumi bagaimana A.H. Nasution menerjemahkan dan menceritakan kembali sudut pandang Jenderal Sudirman dalam buku itu.
"Kemudian dia mendengar apa yang dilakukan oleh Sudirman. Sebenarnya praktiknya perang gerilya banyak dipraktikkan oleh Sudirman kan. Karena Pak Sudirman tidak keburu nulis, maka Pak Nasution meramu dalam bentuk tulisan. Dan itu menjadi buku 'babon' untuk pendidikan kontra perang gerilya. Jadi perang gerilya dan perang kontra gerilya," paparnya.
(ydp)
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.