Duh! Rumor Vampir Picu Kekerasan Massal di Malawi, Staf PBB Sampai Ditarik Keluar

Agregasi Sindonews.com, · Selasa 10 Oktober 2017 10:27 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 10 18 1792370 duh-rumor-vampir-picu-kekerasan-massal-di-malawi-staf-pbb-sampai-ditarik-keluar-mFSGZHdLvB.jpg Presiden Malawi, Peter Muthalika saat berpidato di PBB. Peter mengaku sedih dengan adanya rumor vampir yang sedang marak di negaranya. (Foto: Reuters)

LILONGWE - Beberapa staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ditarik keluar dari Malawi setelah kekerasan massal melanda. Kekerasan itu dipicu rumor tentang orang-orang yang berubah menjadi vampir atau makhluk pengisap darah.

Penarikan para staf PBB itu demi keselamatan. Selama bulan lalu, sebanyak lima orang tewas akibat kekerasan massal. Kelima orang itu dituduh menjadi vampir.

Merebaknya rumor vampir itu tak lepas dari kondisi wilayah selatan Afrika yang masih marak praktik sihir.

Departemen Keselamatan dan Keamanan PBB (UNDSS) dalam sebuah laporan keamanan yang dilihat Reuters membenarkan merebaknya rumor vampir sebagai pemicu kekerasan massal di Malawi. ”Distrik-distrik ini sangat terpengaruh oleh cerita tentang pengisapan darah dan kemungkinan adanya vampir,” bunyi laporan UNDSS.

(Baca juga: Wow! Cetak Rekor Bersejarah, Malawi Relokasi 520 Ekor Gajah)

Menurut laporan UNDSS, rumor tentang vampir telah dimulai di negara tetangga, Mozambik, meskipun tidak jelas awal ceritanya. “(Dengan) ini merekomendasikan penghentian sementara kegiatan PBB di daerah tersebut hingga situasinya dinormalisasi,” lanjut laporan UNDSS, yang dilansir Selasa (10/10/2017).

Koordinator residen PBB, Florence Rolle mengatakan, beberapa staf telah pindah, sementara yang lain tinggal di distrik-distrik tergantung di mana operasi mereka berlangsung.

”UNDSS terus memantau situasi ini dengan ketat untuk memastikan semua staf PBB yang terkena dampak kembali ke lapangan sesegera mungkin,” kata Rolle kepada Reuters.

Presiden Malawi Arthur Peter Mutharika mengatakan bahwa laporan tersebut ”menyedihkan dan menyiksa”. ”Perkembangan ini sangat memprihatinkan Presiden dan seluruh pemerintahan,” kata kantor Presiden Malawi dalam sebuah pernyataan.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini