Image

Astaga! Sidak Gudang Bulog, Bupati Temukan 500 Ton Raskin Berkutu

Sigit Dzakwan, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 20:11 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 10 13 340 1795077 astaga-sidak-gudang-bulog-bupati-temukan-500-ton-raskin-berkutu-g8SFBrGifY.jpeg Bupati Kobar saat sidak ke bulog (foto: Sigit/Inews TV)

KOBAR - Sungguh memprihatinkan, 500 ton beras miskin (raskin) yang dikelola Bulog Sub Divre Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng tertumpuk di gudang Bulog Jalan Iskandar dalam kondisi berkutu dan pecah pecah. Secara kasat mata sudah tak layak untuk dikonsumsi.

Hal itu diketahui setelah Bupati Kobar Nurhidyah melakukan inspeksi mendadak (sidak) pascatemuan beras tak layak konsumsi yang diterima warga tak mampu.

"Ini tercatat beras sudah tiba sejak Juni 2016. Jadi 500 ton raskin ini sudah tertumpuk selama 1 tahun 4 bulan belum tersalurkan. Saya belum tahu persoalannya. Kasihan warga kalau menerima beras seperti ini,” ujar Bupati perempuan pertama di Kalteng ini usai sidak, Jumat (24/10/2017).

 

Ia pun meminta kepada pihak Bulog untuk mengganti raskin yang sudah diterima warga dengan kondisi berwarna kuning, pecah pecah dan sudah berserbuk itu untuk diganti ysng baik.

“Kemudian yang sudah terlanjur disalurkan kami meminta untuk diganti. Sebab warga juga membeli dengan harga Rp1.600 per kilonya," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bulog Sub Divre Pangkalan Bun Rusli Pisto yang tiba terlambat di gudang bulog saat bupati melakukan sidak membantah beras yang didistrbusikan dalam kondisi tidak layak konsumsi.

“509 ton raskin ini masih tertumpuk karena belum tersalurkan saja. Karena stok kita cukup banyak, meski sudah 1 tahun 4 bulan tapi ini masih layak konsumsi. Kita kan uji lab oleh BPOM, meski sepertinya sudah berkutu dan berserbuk tapi masih layak konsumsi ko,” kilah Rusli meski mengaku hanya menguji lab sekali saja saat raskin tiba dari Pulau Jawa.

Ia mengaku selama ini terkendala pendistribusian, kebutuhan raskin di tiga kabupaten seperti Kotawaringin Barat, Sukamara, Lamandau hanya 150 ton per bulan.

“Bulog Pangkalan Bun melayani 3 kabupaten dan hanya 150 ton per bulan, sedangkan stok kita ribuan ton. Jadi ya kadang tertumpuk lama,” ujar Rusli.

Saat ini, ia tinggal menunggu instruksi bupati terkait pihak rumah tangga sasaran (RTS) atau warga penerima raskin untuk mengambil sendiri ke gudang bulog supaya distribusi semakin cepat dan tidak sampai lama tertumpuk di gudang.

“Kalau selama ini biasanya kita salurkan ke kantor desa atau kelurahan, nanti mereka yang menyalurkan ke warga. Kalau langsung diambil ke sini bisa lebih cepat habis sehingga tidak tertumpuk lama," kilahnya.

 

Sebelumnya, mendapat jatah beras miskin (raskin) tak layak konsumsi, warga RT 10Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng mendatangi kantor PWI Kobar sambil membawa satu karung 15 kg raskin berkualitas jelek, pada Kamis 12 Januari 2017.

“Jadi warga saya menangis dan mendatangi saya sambil menunjukkan satu karung raskin 15 kg bertuliskan Bulog dengan kondisi yang sangat buruk,” ujar Ketua RT 10 Kelurahan Madurejo, Mukri sambil menunjukkan beras tersebut di kantor PWI Kobar, Jalan Syutan Syahrir Pangkalan Bun.

Ia menjelaskan, sudah dua kali ini warganya menerima raskin yang berwarna kuning, pecah pecah dan banyak yang halus serta bau apek.

“Pokoknya tidak layak konsumsi, baru dua warga yang lapor ke saya. Mereka menebus Rp30 ribu per 15 kg di kelurahan tadi pagi," tuturnya.

Ia mewakili warganya berharap pihak Bulog Sub Divre Pangkalan Bun mau mengganti dengan beras yang layak. “Kalau bisa ya diganti, kasihan mereka warga tidak mampu," harapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi harga dan pasar, pengadaan serta pelayanan publik Kantor Bulog Sub Divre Pangkalan Bun, Habib mengatakan, jika memang warga penerima raskin merasa beras yang diterima tidak layak, bisa dikembalikan ke kantor kelurahan untuk diganti dengan beras yang baik.

“Ini mungkin hanya sebagian saja, kami minta maaf yang sebesar besarnya. Itu bukan disengaja, karena di gudang banyak beras dan mungkin pas ada yang kebagian beras yang sudah rusak,” ujar Habis di ruang kerjanya.

Namun saat ditanya kenapa beras dengan kualitas buruk tersebut bisa disalurkan ke warga, dirinya terus berkata. “Ini saya yakin hanya sebagian saja, dan kami siap menggantinya. Mungkin kurang kontrol saat di gudang,” kilahnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini