Tugas Menjadi 'Dewi' Selesai, Remaja Ini Akhirnya Jalani Hidup Normal Setelah 9 Tahun Terisolasi

Rufki Ade Vinanda, Okezone · Senin 16 Oktober 2017 06:34 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 16 18 1796045 tugas-menjadi-dewi-selesai-remaja-ini-akhirnya-jalani-hidup-normal-setelah-9-tahun-terisolasi-zCl6Y8uh5U.jpg Matina Shakya saat menjadi dewi di Nepal. (Foto: AFP)

KHATMANDU - Matina Shakya akhirnya bisa merasakan hidup normal layaknya anak-anak lain seperti bersekolah dan juga jalan-jalan. Ia baru bisa bersekolah secara normal ketika usianya menginjak remaja yaitu 12 tahun. Selama 9 tahun ke belakang Shakya diketahui hidup terisolasi karena bertugas menjadi seorang 'Dewi Hidup'.

Ketika berusia 3 tahun, Shakya diambil dari keluarga atas persetujuan orangtuanya untuk bertugas sebagai Kumari. Kumari sendiri adalah perwujudan Dewi Hindu bernama Taleju. Shakya diambil untuk kemudian tinggal di sebuah kuil di Ibu Kota Khatmandu. Kumari diwajibkan tinggal di kuil dan hanya diperbolehkan keluar sebanyak 13 kali selama setahun.

Para Kumari tepatnya dibolehkan keluar pada hari-hari raya khusus. Hal inilah yang membuat mereka hidup terisolasi. Para Kumari bisa keluar kuil dengan mengenakan riasan rumit untuk menemui para pemuja. Kumari dilarang berjalan atau menyentuh tanah dan selalu dibawa dengan tandu. Keberadaan Kumari dianggap sebagai pembawa berkah baik bagi bangsawan maupun pemerintah.

Sebagaimana disitat dari Independent, Senin (16/10/2017), terdapat sekira 12 Kumari yang ada di wilayah Khatmandu. Setiap Kumari yang memasuki masa pubertas nantinya akan langsung digantikan oleh Kumari lainnya. Shakya yang telah mengalami pubertas akhirnya resmi pensiun sebagai Kumari pada 28 September lalu dan tugasnya digantikan oleh bocah berusia 3 tahun  bernama Trishna.

kumari-matina-shakya.jpg

Mathina Shakya mantan dewi hidup di Nepal akhirnya bersekolah. (Foto: AFP)

Menyambut kebebasan putrinya ini, ayah Shakya, Matina Pratap Man, mengaku bahwa ia optimis putrinya bisa segera beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan hidup secara normal.

"Kami berharap sekarang dia bisa sekolah di lingkungan yang baik dia dan akan menjadi siswa yang berprestasi," tutur Pratap.

Pratap menambahkan, ia mengizinkan putrinya menjadi Kumari karena ia menilai jika tradisi kuno asli Nepal ini perlu dipertahankan. Kepala sekolah tempat Shakya menempuh pendidikan mengaku bangga bahwa salah satu muridnya adalah mantan dewi.

Selama menjadi Kumari, Shakya menerimba pelajaran sekolah dari seorang guru privat selama 3 jam sehari. Mantan guru privat Shakya, Laxmi Maharjan, menyebut jika si mantan dewi itu adalah sosok yang rajin belajar.

"Selama menjadi gurunya, saya melihat Shakya selalu ingin belajar hal baru dan tertarik untuk menggambar, melukis, menenun, dan memasak. Ia juga mengajari saya banyak hal," terang Laxmi.

Kelompok aktivis hak asasi manusia, termasuk Pusat Rehabilitasi Wanita Nepal (WOREC), telah mengutuk tradisi Kumari yang dianggap merampas hak anak. Namun, pada 2008, Mahkamah Agung menilai jika Kumari bukan sebuah tindakan mempekerjakan anak secara paksa.

Meski Mahkamah Agung Nepal menolak tuntutan para aktivis, mereka kemudian mengeluarkan aturan wajib bagi Kumari untuk mendapat pendidikan. Seorang mantan Kumari bernama Rushmila menerbitkan sebuah memoar pada 1990an yang menggambarkan tentang sulitnya mantan dewi untuk kembali ke kehidupan normal.

(rav)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini