PERANG Sipil Inggris adalah konflik politik dan bersenjata antara pendukung parlemen (Parlementarian) dengan pendukung kerajaan (Royalis) yang berlangsung dari 1642 sampai 1651
Pada 1649, setelah mengalami kekalahan dalam Perang Sipil tersebut, Raja Charles I ditahan dan diseret ke depan pengadilan. Setelah 59 hakim menandatangani surat perintah eksekusi, pada 30 Januari 1649, Raja Charles I dipenggal di Whitehall, London.
Menyusul kematian sang raja, putranya Charles II lari dan lari ke Belanda. Perang Sipil Inggris sendiri terus bergulir sampai 1651 saat pasukan parlemen Inggris meraih kemenangan di Pertempuran Worcester. Dengan kemenangan tersebut, pemerintahan Inggris berada di bawah kendali parlemen yang kemudian membentuk Protektorat di bawah pimpinan Oliver Cromwell.
Setelah kematian Cromwell pada 1658, Inggris mengalami pergolakan dan perebutan kekuasaan. Di saat itulah Jenderal George Monck, seorang Royalis yang bergabung dengan Cromwell setelah raja Charles I tertangkap, mengambil tindakan.
Monck membawa pasukannya ke Skotlandia, memulihkan ketertiban dan mengatur pelaksanaan pemilihan untuk digelar pada awal 1660. Dia juga menjalin kontak dengan Raja Charles II yang mengasingkan diri.
Dengan saran dari Monck, Charles II mengumumkan Deklarasi Breda yang isinya menawarkan rekonsiliasi, pengampunan atas kejahatan selama masa interregnum dan toleransi baik dalam bidang agama maupun politik. Deklarasi ini terbukti mampu menarik dukungan dari Parlemen Inggris yang kemudian mengirimkan undangan kepada Charles dan menerima pemulihan kerajaan sebagai bentuk politik di Inggris.
Setelah kepulangan Charles II sebagai raja Inggris, pada 1660 parlemen menyusun Undang-undang Ganti Rugi dan Pengampunan yang memberikan amnesti bagi orang-orang yang mendukung Parlementarian selama Perang Sipil dan masa Interregnum. Dalam undang-undang itu, 104 nama dikecualikan dengan sengaja, dengan 49 di antaranya dan dua algojo dijatuhi hukuman terberat.
Nama beberapa orang hakim yang menandatangani surat perintah eksekusi Charles I juga tercantum di dalam daftar pengecualian dan dijatuhi hukuman mati sampai hukuman seumur hidup. Namun, hanya sembilan “pembunuh raja” yang diganjar dengan eksekusi mengerikan.
Meski tiga orang dalam daftar sembilan orang tersebut, yaitu Oliver Cromwell, Ketua Persidangan Charles I, John Bradshaw dan Henry Ireton telah meninggal dunia, mereka tetap dieksekusi setelah mati. Pada Oktober 1660, jasad mereka digali dari kuburnya, digantung, dipenggal, dan dibuang ke lubang di bawah tiang gantungan. Kepala mereka ditancapkan di tombak dan dipajang di atas Westminster Hall, tempat di mana Charles I diadili.
Enam orang hakim lain yang menandatangani surat perintah eksekusi Charles I dan empat orang lainnya juga dinyatakan bersalah atas tuduhan pembunuhan raja. Mereka digantung, diseret dan ditarik kaki dan tangannya ke empat arah dengan kuda sebelum dipajang di Charing Cross pada 15-17 Oktober 1660.
Tidak semua orang dalam daftar nama itu terkena hukuman mati. Sebagian dari mereka berhasil melarikan diri, sebagian lain dijatuhi hukuman seumur hidup dan ada pula yang mendapat pengampunan.
Charles II memerintah Inggris selama sekira 25 tahun sampai meninggal akibat epilepsi pada usia 54 tahun di Istana Whitehall.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.