JAKARTA - Tepat 91 tahun lalu, 31 Oktober 2019, Harry Houdini, pesulap ternama asal Hungaria yang dikenal sebagai escapologist atau ahli meloloskan diri meregang nyawa. Houdini mati tepat tujuh hari setelah aksi terakhirnya di Teater Garrick, Detroit, Amerika Serikat.
Kematian Houdini sempat menjadi misteri. Berbagai pihak banyak mengaitkan kematian Houdini dengan aksi terakhirnya pada tanggal 24 Oktober 1926. Namun, sebuah hasil rekam medis atas dirinya mengungkap diagnosa kematian Houdini yang disebut-sebut diakibatkan oleh peritonitis di bagian umbai cacing organ ususnya.
Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut. Peradangan ini tergolong komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ di sekitar rongga perut atau abdomen.
Dalam kasus Houdini, berbagai sumber mensinyalir peristiwa dua hari sebelum pertunjukan terakhir Houdini di Detroit sebagai penyebab infeksi pada selaput rongga perutnya.
Kala itu, sore hari tanggal 22 oktober 1926 di sebuah acara, dua orang mahasiswa dari Universitas McGill masuk ke ruang ganti Houdini. Salah satu dari mereka, J Gordon Whitehead kemudian menantang Houdini, apakah dirinya kuat menerima pukulan di daerah perut seperti aksi yang biasa diperagakan banyak pesulap di dunia.
Houdini pun menjawab "ya." Lalu, tanpa aba-aba, Whitehead menyarangkan empat kali pukulan keras ke arah Houdini yang tengah mencari surat dan sama sekali belum mempersiapkan diri. Akibat pukulan itu, Houdini mengalami kesakitan yang luar biasa di bagian perut. Pukulan itu rupanya memicu penyakit usus buntunya menjadi semakin parah.
Pada malam pertunjukan tanggal 24 Oktober 1926, Houdini tampil dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk. Dalam kondisi demam tinggi, Houdini nekat melanjutkan aksinya, meski seluruh keluarga dan tim --termasuk dokter-- melarang dirinya untuk beraksi malam itu.
Malapetaka betul tiba malam itu. Tepat di pertunjukannya yang ketiga, Houdini mengatakan pada asistennya bahwa dia benar-benar tidak sanggup melanjutkan pertunjukan karena rasa sakit yang makin tak tertahan. Tak lama setelah tirai panggung ditutup, Houdini kemudian langsung tersungkur dan tak sadarkan diri. Beberapa hari setelah menjalani perawatan, Houdini pun mengembuskan nafas terakhirnya.
Warna-warni Kehidupan Houdini
Houdini terlahir dengan nama Erik Weisz di Budapest, Hungaria, 24 Maret 1874. Meski kemudian dalam sebuah wawancara dirinya mengklaim Appleton, Wisconsin, Amerika Serikat sebagai tempat lahirnya, dan 6 April 1874 sebagai tanggal lahirnya.
Houdini lahir dari Rabbi Mayer Samuel Weiss dan istrinya, Cecília Weisz. Ayah Houdini menjabat sebagai seorang Rabbi dari Kongregasi Yahudi Reformasi Zion.
Ketika masih anak-anak, Houdini mengambil beberapa pekerjaan dan berhasil mencapai banyak prestasi, mulai dari membuat debut publik sebagai pemain trapeze pada usia sembilan tahun, hingga menjadi juara lari cross country pada masa mudanya, hingga suatu hari ia ditakdirkan dengan dunia sulap dan mengganti namanya menjadi Harry Houdini.
Nama Houdini sendiri dipilihnya atas kekagumannya pada seorang pesulap Perancis, Jean Eugene Robert Houdin. Dalam kehidupan selanjutnya, Houdini menyatakan nama depan "Harry" merupakan penghormatan kepada Harry Kellar, yang juga dikaguminya.
Sekitar tahun 1900, Houdini memulai karir sulapnya di sebuah sirkus. Sebelum menjadi escapologist, Houdini adalah seorang raja kartu. Julukan Kings of Cards pun disematkan kepadanya.
Karir Houdini mulau menanjak sejak tahun 1899, ketika ia dipertemukan dengan Martin Beck, pria asal Woodstock, Illinois, Amerika Serikat yang kelak menjadi manajernya.
Dalam sebuah pertunjukan, Beck jatuh cinta dengan aksi Houdini meloloskan diri dari borgol. Beck lalu meyakinkan Houdini untuk berfokus pada kemampuannya meloloskan diri. Tak hanya itu, Beck pun memberi tempat kepada Houdini untuk melakukan pertunjukan berkala di Orpheum vaudeville circuit. Dalam beberapa bulan, aksi Houdini mashyur dan membawanya mengelilingi gedung pertunjukan terkemuka di seluruh negeri.
Pada tahun-tahun selanjutnya, Beck mengatur tur Houdini di Eropa. Houdini dan Beck sempat gagal pentas setelah tak dapat menarik perhatian Dundas Slater, manajer Alhambra Theatre, London, Inggris. Houdini tak begitu saja menyerah. Ia lantas mendemonstrasikan aksi pelolosan diri dari borgol di Scotland Yard. Aksi itu tak hanya berhasil menarik perhatian Slater, namun juga petugas kepolisian di London. Mulai hari itu, sepanjang enam bulan kedepan, Houdini mendapatkan panggungnya di Alhambra Theatre.
Sejak itu, karir Houdini terus melesat. Aksi paling ikoniknya adalah chinese water torture, di mana Houdini yang tubuhnya digantung terbalik berhasil meloloskan diri dari lemari kaca yang diisi penuh dengan air.
Sebagai pesulap, Houdini dikenal sebagai anti-supranaturalis. Houdini, sepanjang karir sulapnya banyak membuktikan omong kosong soal sihir dan kemampuan magis banyak orang yang kala itu menyebut diri mereka sebagai penyihir. Bahkan, pada 1926, ia bersaksi di depan Kongres guna mendukung undang-undang yang melarang praktik perdukunan atau sihir. Atas berbagai polahnya itu, Houdini dimusuhi di kalangan banyak penyihir. Sampai-sampai, sejumlah pihak menyebut kematian Houdini merupakan andil dari sejumlah penyihir yang membencinya.
Harry Houdini bukan hanya seorang pesulap, ia juga menyukai dunia penerbangan. Kali pertama ia tertarik dengan pesawat ketika berada di Eropa pada 1909.
Ia kemudian membeli pesawat sayap ganda Voisin buatan Prancis dan menjadi salah satu pilot swasta pertama dunia. Sayangnya, ia mengalami kecelakaan dalam penerbangan perdana di Jerman. Tapi hal itu tidak membuatnya jera.
Terkait sisi kehidupannya yang lain, Houdini adalah seorang pelopor dalam dunia penerbangan. Houdini sempat membidik target menjadikan dirinya sebagai pilot pesawat terbang pertama di Australia. Pada Maret 1910, dalam suatu perjalanan, Houdini mengemudikan Voisin miliknya dan melakukan tiga kali penerbangan yang sukses di dekat Melbourne, dimana masing-masing hanya berlangsung beberapa menit.
Saat itu, Aerial League of Australia memberi sertifikasi kepada Houdini sebagai pilot penerbangan bermesin dan berkendali pertama.
Meski begitu, sejumlah ahli sejarah mempertanyakannya dan menyebut rekor itu sebagai milik Colin Defries. Defries adalah seorang warga Inggris yang beberapa bulan sebelumnya juga melakukan penerbangan singkat. Pada 2010, Houdini dan Defries sama-sama dihormati dalam rangkaian perangko mengenang seratus tahun penerbangan bermesin di Australia.
(ydp)
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.