Image

Sepanjang 2017, Kasus Difteri Paling Banyak Ditemukan di Pasuruan

Syaiful Islam, Jurnalis · Kamis 07 Desember 2017, 13:14 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 07 519 1826639 sepanjang-2017-kasus-difteri-paling-banyak-ditemukan-di-pasuruan-j7Hb5NQp71.jpg Imunisasi untuk Mencegah Difteri (foto: Yulius Satria/Antara

SURABAYA – Paling banyak kasus difteri ditemukan di Kabupaten Pasuruan untuk Provinsi Jawa Timur. Jumlahnya mencapai angka 46 kasus sepanjang tahun 2017. Hal ini terjadi lantaran minimnya kesadaran masyarakat terkait pentingnya imunisasi.

Sedangkan total kasus difteri di Jatim sepanjang 2017 berjumlah 318 kasus, 12 di antaranya anak meninggal dunia. Sehingga pemerintah menetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Difteri sendiri adalah infeksi yang umumnya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan.

(Baca Juga: Waspada! Purwakarta Punya Riwayat KLB Difteri‎)

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, Kohar Hari Santoso, menjelaskan Pasuruan merupakan Kabupaten terbanyak ditemukan difteri yang menyentuh angka 46 kasus. Ini terjadi lantaran minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi.

"Kami dapat mengetahui jumlah kasus, penyebarannya, dan faktor penyebab penularan melalui penyelidikan. Hal-hal tersebut berkaitan dengan penetapan status kejadian luar biasa," terang Kohar.

Kohar menambahkan, pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah jumlah korban bertambah. Salah satunya dengan melakukan penyelidikan epidemiologi ketika menemukan kasus baru difteri.

Dinkes Jatim juga menggelar program imunisasi secara menyeluruh. Ini penting untuk mendapat perhatian yang serius dari semua kalangan kesehatan, khususnya dokter spesialis anak.

"Kami sudah mendistribusikan antidifteri serum (ADS). Fungsinya sebagai kekebalan terhadap penyakit ini. Petugas pun memperluas wilayah pemberian vaksin DPT Hib, DT, dan TD " ungkapnya.

Warga bisa mendapatkan vaksin itu di Posyandu secara gratis. Vaksin tersebut berfungsi sebagai melindungi anak dari wabah, kecacatan dan kematian. Dinkes juga memfasilitasi pemeriksaan spesimen untuk menetapkan diagnosa ke laboratorium rujukan nasional BBLK Surabaya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini