Image

Ini Tugas yang Menanti Marsekal Hadi Tjahjanto saat Resmi Jadi Panglima TNI

Bayu Septianto, Jurnalis · Jum'at 08 Desember 2017, 06:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 12 08 337 1827090 ini-tugas-yang-menanti-marsekal-hadi-tjahjanto-saat-resmi-jadi-panglima-tni-Fq6nvvvTPY.jpg Calon Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Foto Antara/Muhammad Adimaja

JAKARTA – Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Kertopati menyebutkan terdapat sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan Marsekal Hadi Tjahjanto bila sudah sah dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Panglima TNI.

Perempuan akrab disapa Nuning ini menyoroti pembenahan TNI yang harus mengutamakan adanya peningkatan kompetensi dan kapasitas prajurit TNI untuk menjadi prajurit yang setara dengan kompetensi prajurit yang dimiliki negara-negara maju.

"Kompetensi prajurit TNI harus mencapai tingkatan setara dengan kompetensi prajurit negara maju. Kapasitas prajurit TNI harus mencapai tingkatan intelektual akademik melakukan analisis berbagai operasi militer secara ilmiah," jelas Nuning kepada Okezone, Jumat (8/12/2017).

Menurutnya, Panglima TNI yang baru harus bisa membenahi lembaganya untuk mencapai efisiensi organisasi agar lebih responsif menghadapi berbagai jenis ancaman mulai dari ancaman militer, ancaman non-militer dan ancaman nirmiliter.

(Prajurit Marinir. Foto Antara/Wahyu Putro)

Organisasi TNI harus dibenahi agar struktur dan posturnya lebih tanggap mengantisipasi perkembangan lingkungan strategis global, regional dan nasional.

"Seperti kita ketahui, rencana strategis (renstra) pembangunan TNI melalui program Minimum Essensial Force (MEF) dibagi dalam 3 tahap. Pertama 2009 hingga 2014, kedua 2015 sampai dengan 2019, dan terakhir 2020 hingga 2024," bebernya.

Baca Juga: Ini Catatan Kontras Mengenai Pekerjaan Rumah Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto

Baca Juga: Gerindra 'Cium' Keanehan di Balik Cepatnya Pergantian Panglima TNI

Target yang ditentukan dalam renstra pertama adalah 30 persen, kedua 30 persen, dan sisanya diselesaikan dalam renstra (perencanaan strategis) terakhir.

Saat ini, kata Nuning, dalam renstra pertama telah mencapai kurang lebih 27 persen. Hal ini berbeda jauh dengan dengan renstra kedua yang dalam 3 tahun terakhir masih 0 persen.

"Seharusnya dalam renstra kedua ini sudah harus tercapai, diantaranya pengadaan pesawat tempur TNI AU, kapal selam TNI AL, dan rudal taktis TNI AD," paparnya.

(Alutsista ditampilkan dalam perayaan HUT TNI. Foto Antara/Wahyu Putro)

"Tersendatnya pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) ini harus segera mendapat perhatian Kemenhan, agar program pembangunan alut sista TNI dapat diwujudkan sesuai renstra," tambahnya.

Nuning juga berharap Marsekal Hadi bisa membangun dan memperkuat TNI terhadap ancaman yang ada di wilayah perbatasan, terutama di wilayah Natuna dan perbatasan dengan Philipina yang tidak boleh diabaikan.

Kesejahteraan prajurit, menurut Nuning juga harus seimbang dengan risiko yang dihadapi prajurit saat berperang di medan tugas.

(Prajurit mencium anaknya sebelum berangkat ke perbatasan Indonesia-PNG. Foto Antara/Arif Firmasyah)

"Sebagai contoh, tunjangan kinerja TNI seharusnya mendapat alokasi yang paling tinggi karena adanya risiko kematian. Risiko kematian prajurit militer lazim digunakan dalam perhitungan gaji atau tunjangan lain," ungkapnya.

Terintegrasinya alat utama sistem pertahanan (alutista) di semua matra juga harus menjadi perhatian pucuk pimpinan TNI yang baru nanti.

"Meskipun jenis alat komunikasi yang diadakan oleh masing-masing angkatan berbeda tetapi tetap terintegral ke dalam sistem komunikasi ketika operasi gabungan digelar," tutupnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini