Image

Cegah Penyebaran Difteri Meluas, Ini Upaya Dinas Kesehatan Purwakarta‎

Mulyana, Jurnalis · Jum'at 08 Desember 2017, 17:48 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 08 525 1827452 cegah-penyebaran-difteri-meluas-ini-upaya-dinas-kesehatan-purwakarta-8206-3VNT5ZZs8d.jpg Imunisasi untuk Mencegah Difteri (foto: Yulius Satria/Antara

P‎URWAKARTA - Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, telah melakukan serangkaian persiapan guna menekan penyebaran wabah penyakit difteri. ‎Mengingat, wilayah ini pernah memiliki riwayat penyakit mematikan tersebut.

Adapun persiapan yang akan dilakukan, yakni dengan‎ melakukan vaksinasi secara massal. Sasarannya, 310 ribu anak dan balita berupa pemberian imunisasi DPT. Pemberian imunisasi ini, rencananya akan mulai digelar pada 11 Desember mendatang.

(Baca Juga: Puluhan Warga Tangerang Terinfeksi Difteri, 1 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia)

"Yang menjadi daerah sasaran pertama imunisasi Difteri, yakni Kecamatan Tegalwaru," ujar ‎Kepala Seksi Surveilance dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Eva Lystia Dewi, melalui selulernya, Jumat (8/12/2017).

Eva mengakui, jika ‎Purwakarta sudah KLB difteri sejak 2016 lalu. Pasalnya, selama tahun kemarin penderita difteri mencapai 49 kasus, dengan kematian satu orang penderita. Kemudian, di 2017 ini kasusnya menurun, menjadi 29 dengan kematian satu orang.

"Jangankan jumlah penderitanya puluhan, satu orang saja statusnya sudah KLB," jelas dia.‎

Oleh karenanya, kata dia, pihaknya harus segera melakukan out break response immunitation (ORI). Pasalnya, pencegahan difteri ini tak hanya bisa dilakukan dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), tapi juga harus dengan pemberian vaksinasi (imunisasi).‎

S‎ebenarnya, lanjut Eva, untuk imunisasi berkala sudah dilakukan sesuai jadwal. Yakni, pemberian imunisasi di setiap posyandu, puskesmas dan bidan desa. Akan tetapi, untuk kegiatan ORI ini, akan dilakukan secara serentak terhitung 11 Desember mendatang.

"Untuk Purwakarta, sasaran lebih dari 310 ribu anak usia satu sampai 19 tahun. Imunisasi ini akan diberikan di setiap posyandu, puskesmas dan sekolah-sekolah yang memohonkan untuk vaksinasi," kata dia menambahkan.

Adapun ‎310 ribu sasaran itu, sambung dia, mencakup 71 ribu anak usia satu sampai 15 tahun. Lalu, 35 ribu anak usia lima sampai tujuh tahun. Kemudian anak dengan kategori tujuh sampai 19 tahun, jumlahnya 203 ribu. ORI ini akan dilaksanakan sebanyak tiga kali putaran. Dengan interval, nol, satu bulan berikutnya, dan enam bulan berikutnya.‎

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, Anne Hediana Koesoemah, mengatakan, pihaknya berupaya untuk menyediakan anti difteri serum (ADS) dan eritromisin. Akan tetapi, pihaknya sempat menemukan kesulitan mencari ADS. Sebab, sudah tak diproduksi lagi. Mengingat, difteri ini penyakit yang dianggap telah hilang.

"‎Di Purwakarta juga, kasus difteri yang menghebohkan itu terjadi pada 2007 di Kecamatan Maniis. Setelah itu hilang. Tetapi, di 2016 kemarin kembali muncul," ujarnya.

(Baca Juga: 22 Orang Terjangkit Difteri, Dinkes DKI Minta Warga Waspada)

Terkait penderita Difteri, kata dia, data yang ada di dinasnya mencatat masih ada empat pasien yang dirawat di RSUD Bayu Asih. Penderita sudah diobati, lalu diberikan profilaksis terhadap kontak DNA dan pemberian imunisasi selektif. Upaya ini, merupakan salah satu cara penghentian transmisi difteri.

Seperti diketahui, ‎Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pernah memiliki riwayat penyebaran penyakit Difteri. Kasus ini, kali pertama ditemukan di wilayah Kecamatan Maniis. ‎Kejadian itu, tepatnya pada 2007 lalu.‎

Data dari Dinas Kesehatan setempat mencatat, penyakit difteri pertama kali ini menyerang 22 warga Kampung Cijambu, Desa Pasir Jambu, Kecamatan Maniis yang secara teritorial merupakan wilayah perbatasan antara Purwakarta-Cianjur. Bahkan, saat itu ada seorang anak lima tahun di wilayah itu meninggal dunia akibat terjangkit penyakit mematikan tersebut.

S‎ejak saat itu, Purwakarta dinyatakan berstatus waspada Difteri. Khususnya di wilayah perbatasan Maniis dengan wilayah yang masuk Cianjur. Meski demikian, Kecamatan Maniis bukan merupakan wilayah endemis difteri. S‎tatus waspada ini, hanya karena disebabkan penyakit tersebut baru ditemukan di wilayah tersebut.

Di 2016 lalu, ‎kejadian tersebut terulang. Saat itu, ada sekitar 32 pasien yang terpapar difteri. Bahkan, seorang anak warga Desa Cisalada, Kecamatan Jatiluhur, meninggal dunia akibat penyakit ini. Dengan adanya kasus itu, maka difteri di Purwakarta menjadi kejadian luar biasa (KLB).

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini