JAKARTA - Jenazah almarhum Andi Mapetahang (AM) Fatwa telah tiba di lokasi TMP Kalibata, Jakarta Selatan. Jenazah almarhum langsung disambut upacara militer dengan inspektur upacara Ketua DPD RI, Oesman Sapta.
“Saya inspektur upacara atas nama negara bangsa dan TNI, dengan ini mempersembahkan di persada ibu Pertiwi,”ucap Oso saat memberikan sambutan, Kamis (1/12/2017).
“Semoga jalan dharmakbati yang ditempuhnya bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua dan arwahnya semoga mendapat tempat di sisi-Nya,” sambung Oso.
Jenazah AM Fatwa kemudian mendapatkan penghormatan senjata sebelum diturunkan ke liang kubur.
Anak AM Fatwa, Dian AM Fatwa mengatakan, ayahnya diduga meninggal karena sakit liver. "Beliau sakit sirosis liver. Livernya sudah menjadi sirosis karena dulunya beliau terkena hepatitis pada waktu di tahanan politik," ujarnya.
Sosok pria kelahiran Bone 12 Februari 1939 ini dikenal sebagai salah satu sosok yang kritis terhadap kebijakan orde lama dan orde baru. Bahkan, tak jarang intelektualitas kritisnya, membuat dia sering mendapat teror dan tindak kekerasan dari dua rezim pemerintahan tersebut.
(Baca juga: AM Fatwa Meninggal, Oesman Sapta: Dia Adalah Seorang Petarung!)
Sebelum mencapai karier politik yang cemerlang, AM Fatwa bahkan divonis 18 tahun penjara dari tuntutan seumur hidup saat melakukan kotbah politik yang kritis terhadap orde baru serta membuka lembaran putih peristiwa Tanjung Priok pada 12 September 1984.
Mencapai karier politik cemerlangnya, AM Fatwa dikenal sebagai seorang deklarator berdirinya Partai Amanat Nasional (PAN) dan menjadi ketua PAN (1998-2005) hingga kini dirinya masih menjabat sebagai Dewan Kehormatan PAN hingga periode 2020 mendatang.
Tak hanya moncer dalam kepengurusan partai politik yang didirikannya, AM Fatwa terpilih menjadi anggota DPR RI pada 1999 yang diusung kendaraan politik besutannya tersebut. Tak berselang lama jabatan Wakil Ketua DPR/MPR RI bisa disandangnya selama dua periode pada 1999 hingga masa jabatan 2009.
Nama AM Fatwa sendiri mulai dikenal sebagai tokoh nasional, tak heran jika beberapa penghargaan seperti Bintang Maha Putera Adipradana yang diberikan oleh Presiden RI, tiga penghargaan dari museum rekor Indonesia sebagai anggota parlemen paling produktif menulis buku, pledoi terpanjang di pengadilan negeri serta mengenai penggunaan hak bertanya DPD kepada presiden.
(Qur'anul Hidayat)