PADA 26 Desember 1944, pasukan Amerika Serikat (AS) di bawah pimpinan Jenderal George S. Patton berhasil membebaskan Kota Bastogne di Belgia dari kepungan pasukan Jerman. Keberhasilan Patton mengamankan Bastogne menegaskan kemenangan pihak sekutu dalam pertempuran dahsyat dalam Perang Dunia II yang dikenal dengan nama Battle of the Bulge.
Bastogne adalah tujuan utama dari Battle of the Bulge, serangan Jerman menembus Hutan Ardennes. Kota kecil itu memberikan akses persimpangan jalan di medan yang buruk dengan sedikit jalan yang dapat dilintasi. Dengan menguasai Bastogne, pasukan Jerman akan mendapatkan jalur berharga untuk memperluas invasinya ke wilayah utara.
Kota itu dipertahankan oleh pasukan dari Divisi Terjun Payung 101 AS yang diperkuat oleh beberapa pasukan dari berbagi unit lainnya. Mereka mengalami kesulitan logistik karena makanan, obat-obatan dan sumber daya lainnya mulai berkurang karena cuaca yang buruk dan serangan terus menerus dari pasukan Jerman. Meski begitu, Brigadir Jenderal Anthony MacAuliffe menolak menyerah.
Saat itulah Patton datang dan menerapkan strategi yang rumit dan cerdas dia membawa pasukan ketiga (3rd Army) AS menembus garis pertahanan Jerman dan memasuki Bastogne. Dengan kedatangan pasukan Patton, Divisi Terjun Payung 101 mendapatkan bantuan yang sangat dibutuhkan dan pada akhirnya berhasil mendesak pasukan Jerman mundur hingga ke seberang Sungai Rhine.
Sebanyak 19 ribu pasukan AS dilaporkan tewas, 47.500 terluka dan 23.000 lainnya hilang atau tertangkap dalam Battle of the Bulge, menjadikannya pertempuran paling besar dan berdarah yang pernah dialami pasukan AS selama Perang Dunia II.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.