Puluhan Pasien Rumah Sakit Jiwa di Jambi Tak Diambil Keluarga Meski Sudah Sembuh

ant, · Selasa 06 Februari 2018 22:51 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 06 340 1855784 puluhan-pasien-rumah-sakit-jiwa-di-jambi-tak-diambil-keluarga-meski-sudah-sembuh-o0JRVQj0e0.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa (RSJ)k Provinsi Jambi dr Hernayawati mengatakan sebanyak 78 orang pasien di rumah sakit tersebut tidak mendapatkan perhatian dan ditelantarkan keluarganya padahal mereka sudah tidak perlu dirawat lagi.

Hal itu terungkap saat dengar pendapat Komisi IV DPRD Provinsi Jambi bersama RSJ Jambi di gedung DPRD setempat, Selasa (6/2/2018).

Hernayawati mengatakan, puluhan pasien itu semula didatangkan dari berbagai daerah dan instansi. Ada juga dari Dinas Sosial dan yang diantar langsung keluarganya.

"Untuk biaya pasien yang terlantar oleh keluarganya ini cukup besar, dimana hari-hari untuk makan minumnya sebesar Rp25 ribu. Itu belum termasuk pakaian dan kebutuhan lainnya. Kalau wanita itu perlu bedak dan make up, semuanya masih kita tanggung," kata Hernayawati.

Dia mengatakan jika pasien di RSJ ada yang mempunyai keluarga, namun keluarga pasien tidak bisa menerima kehadirannya lagi dengan alasan beragam. Ada yang beralasan tidak cukup mampu untuk mengurusi dan ada yang karena faktor ekonomi.

Namun dari puluhan pasien yang ditanggung tersebut kebanyakan adalah pasien yang tidak diketahui lagi keluarganya dan alamat tinggalnya, karena mereka diambil oleh Dinas Sosial di jalanan.

Hernayawati mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk ditampung di Panti Sosial. Namun kondisi belum memungkinkan apalagi hanya satu blok, sementara dengan jumlah pasien tersebut harusnya memiliki dua blok.

"Mereka tidak mungkin digabung, sebab ada yang laki-laki dan perempuan dan itu harus dipisah," katanya menambahkan.

Sementara menanggapi keluhan pihak RSJ itu, Anggota komisi IV DPR Provinsi Jambi, Popriyanto mengatakan pemerintah harus segera memberikan solusi tepat bagi pasien tersebut.

Dirinya mendukung bila pasien yang tidak harus rawat inap lagi itu dilimpahkan kepada Dinas Sosial untuk dibina dan diberikan keterampilan.

"Tapi harus beda blok, kalau satu blok bahaya. Jadi harus dipisahkan antara laki-laki dan perempuan," kata Popri.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini