BENGKULU - Jelang pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengimbau masyarakat provinsi dengan julukan ''Bumi Rafflesia'' khususnya Kota Bengkulu, waspada terhadap peredaran uang palsu (upal).
Pihak BI sendiri terus mensosialisasikan ciri-ciri upal. Dengan metode 3D. Dilihat, Diraba dan Diterawang. Tujuannya, peredaran upal dapat dicegah. Terutama nominal uang kertas Rp50 ribu dan Rp100 ribu.
''Masyarakat harus waspada atau saat menerima uang. Terutama nominal Rp50 ribu dan Rp100 ribu,'' kata Endang, Selasa (27/2/2018).
Di Bengkulu, jelas Endang, dari uang Rp1 juta terdapat 9 lembar uang palsu yang beredar. Artinya, peredaran upal di ''Bumi Rafflesia'' masih kecil. Namun, kata dia, masyarakat tetap waspada terhadap bertransaksi.
(Baca Juga: Pemerintah Hibahkan Dana Rp25 Miliar untuk Pemilihan Wali Kota Bengkulu 2018)
Endang menambahkan, pihaknya juga mememinta bank-bank di Bengkulu waspada saat menerima uang. Sebab, kata dia, pegawai bank atau teller yang menerima upal saat transaksi menjadi tanggung jawab yang menerima uang tersebut.
''Metode 3D terus kita sosialisasikan,'' sampai Endang.
Jelang Pilkada Serentak 2018 peredaran uang di ''Bumi Rafflesia'', kata Endang per hari masih normal. Tidak adanya kenaikan atau permintaan lebih dari bank-bank. Kisarannya, jelas Endang, dari Rp600 miliar per hari untuk di seluruh penjuru Bengkulu.
Peningkatan peredaran uang, Sambung Endang, akan mengalami peningkatan ketika bulan ramadhan. Di mana saat bulan suci ramadhan pihaknya mengeluarkan uang hingga Rp1,2 miliar atau dua kali lipat dari hari biasanya.
''Sampai saat ini belum ada peningkatan, masih normal,'' demikian Endang.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.