Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Pengusaha Layar Tancap yang Bertahan di Tengah Era Digitalisasi

Wijayakusuma , Jurnalis-Sabtu, 14 April 2018 |12:02 WIB
Cerita Pengusaha Layar Tancap yang Bertahan di Tengah Era Digitalisasi
Aminah dan Usaha Layar Tancapnya (foto: Wijayakusuma/Okezone)
A
A
A

BEKASI – Misbar alias gerimis bubar memang identik dengan layar tancap atau bioskop keliling. Ya, pertunjukan layar tancap yang sering digelar di lapangan terbuka bisa tiba-tiba bubar saat gerimis atau hujan mengguyur. Hiburan rakyat yang pernah berjaya di era 1970 hingga 1990-an tersebut kini mulai meredup tergilas kemajuan era digitalisasi.

Satu-satu pengusaha layar tancap gulung tikar seiring bertaburannya bioskop modern dan mudahnya masyarakat menonton film melalui TV berlangganan atau internet. Tapi, ada juga yang masih bertahan melestarikannya.

(Baca Juga: Balada Layar Tancap yang Tergerus Zaman)

Salah satunya Aminah (46), pemilik usaha layar tancap CV Pendi Film di Kampung Babakan RT 04 RW 04, Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dia mengggeluti usaha tersebut bersama suaminya sejak 10 tahun lalu.

Aminah mengakui usaha layar tancapnya kini makin sepi peminat. "Sejak 2015 peminatnya sepi dan sangat jarang sekali. Layar hanya keluar 2 dalam setahun. Beda sama 10 tahun lalu, ramai sekali. Bisa keluar 5 layar, paling sedikit 2," katanya kepada Okezone, Rabu 11 April 2018.

Dulu, setahun pasca-mendirikan usaha layar tancap, Aminah mengalami masa-masa kejayaan. Banyak permintaan dari penghelat hajatan pernikahan, sunatan maupun hari besar nasional yang menyewa jasa layar tancapnya. Dengan tarif sewa sebesar Rp500 hingga 700 ribu (tergantung jarak), dalam sehari Aminah bisa mengumpulkan Rp1 hingga 2 juta.

"Dari 2008 hingga 2010 masih jaya. Dulu masih banyak yang sewa buat pesta hajatan di kampung-kampung. Sampai bisa naik haji saat itu. Tapi sekarang sudah jarang orang hajatan mau sewa layar tancap," kenangnya.

Usaha Layar Tancap Milik Aminah (foto: Wijayakusuma/Okezone)

Sama seperti pemutaran layar tancap di berbagai wilayah pada umumnya, layar tancap Aminah pun menayangkan film-film lawas bergenre kolosal, drama dan komedi, yang disesuaikan dengan pesanan si empunya hajat.

"Banyak filmnya, seperti Saur Sepuh, Siluman Kera, Makelar Kodok. Kebanyakan ya kaset Barry Prima. Sekarang semua kaset film menganggur," keluhnya.

Saat masih berjaya, layar tancap Aminah sering dipanggil di berbagai hajatan di wilayah Bekasi dan Bogor, di antaranya Setu, Tambun, Karawang hingga Cariu, Jonggol. Tak sedikit pula kendala yang kerap dialami para pekerja, saat hendak memasang layar tancap di lokasi hajatan.

"Kalau jalannya sempit, kendaraan pengangkut film tidak bisa masuk. Semua karyawan terpaksa menggotong barang-barang. Saat mati lampu, kita harus gunakan mesin diesel. Tapi kadang-kadang mesin dieselnya mati," kata Aminah.

Memiliki barang-barang produksi yang sudah termakan usia dan rentan rusak, membuat Aminah harus merogoh kocek yang tak sedikit untuk biaya operasional.

"Bisa Rp2 juta sampai 4 juta. Untuk alat-alat film yang kadang rusak, harus panggil tukang servis. Dulu saya punya 14 layar, tapi ada yang hilang, ada juga yang habis dimakan rayap," paparnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement